Gotrade News - Harga emas spot naik 0,2% ke USD 4.723,40 per ons pada perdagangan Senin (12/5/2026). Kenaikan terjadi saat pasar mencermati ketegangan AS-Iran dan rilis data inflasi pekan ini.
Investor masuk perlahan ke aset safe-haven setelah Presiden Donald Trump menolak respons Iran atas proposal damai Washington. Kebuntuan tersebut memperpanjang konflik 10 minggu yang mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Key Takeaways:
- Emas spot naik 0,2% ke USD 4.723,40 per ons setelah dua hari beruntun menguat.
- Trump menyebut respons Iran "garbage" dan situasi gencatan senjata "sangat kritis".
- Pasar menanti rilis CPI Selasa dan PPI Rabu sebagai katalis arah berikutnya.
Pemicu Reli Emas
Menurut Liputan6, harga emas sempat turun lebih dari 1% di awal sesi sebelum berbalik arah. Daniel Pavilonis dari RJO Futures menyebut pasar "sangat fokus pada Selat Hormuz, terutama pada pembukaan kembali".
Jim Wyckoff, analis American Gold Exchange, melihat aksi bargain hunting menjelang rilis data inflasi AS. Wyckoff mencatat bahwa investor melakukan penyesuaian posisi sebelum data ekonomi penting dirilis pekan ini.
Dilansir Kompas, perak melonjak 6,6% ke USD 85,65 per ons. Platinum naik 3% ke USD 2.116,72 sementara paladium menguat 0,8% ke USD 1.503,11 per ons.
Saham penambang emas seperti Newmont (NEM) dan ETF VanEck Gold Miners (GDX) berpotensi terdorong sentimen ini. Pelaku pasar mengamati pergerakan emiten tambang ketika harga emas spot kembali mendekati rekor.
Melansir Bloomberg Technoz, emas spot ditutup di USD 4.750,4 per troy ons pada 11 Mei 2026. Kenaikan dua hari beruntun mencapai 1,37% secara kumulatif setelah koreksi tajam akhir pekan lalu.
Volatilitas harga emas tetap tinggi sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026. Ketegangan kembali memanas setelah jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dilaporkan terganggu beberapa pekan terakhir.
Risiko Inflasi dan Suku Bunga
Analis ING memperingatkan bahwa kegagalan negosiasi memperbesar ketidakpastian jadwal gencatan senjata. Risiko inflasi yang tetap tinggi mendukung pandangan bahwa suku bunga akan bertahan lama, sehingga membebani emas.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dijadwalkan rilis Selasa ini, diikuti Indeks Harga Produsen (PPI) pada Rabu. Kedua data tersebut menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam memetakan arah kebijakan The Fed.
Meski demikian, ING memproyeksikan emas dapat mencapai USD 5.000 per ons pada akhir tahun. Sejumlah broker besar telah memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga AS pada 2026.
Priyanka Sachdeva dari Phillip Nova Pte Ltd menyebut emas sedang berkonsolidasi di antara tekanan geopolitik dan inflasi. Kombinasi tersebut menciptakan pergerakan harga tanpa arah yang jelas dalam jangka pendek.
Trump dijadwalkan melakukan kunjungan dua hari ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pekan ini. Agenda pertemuan akan membahas Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, dan senjata nuklir secara bersamaan.
Hasil pertemuan Trump dan Xi berpotensi mempengaruhi sentimen risiko global secara langsung. Pelaku pasar emas akan mencermati pernyataan resmi kedua pemimpin sebagai sinyal arah ketegangan geopolitik berikutnya.
Sumber:
- Harga Emas Dunia Berbalik Naik, Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan Data Inflasi (Kompas)
- Harga Emas Stabil, Trader Pantau Kebuntuan di Selat Hormuz (Bloomberg Technoz)
- Harga Emas Naik 2 Hari Beruntun, Waktunya Jual atau Beli (Bloomberg Technoz)
- Harga Emas Rebound, Investor Akumulasi Perlahan (Liputan6)












