Gotrade News - Harga emas dunia mengalami kenaikan dua hari berturut-turut di tengah konflik regional yang semakin memanas. Kondisi ini mendorong investor mencari aset safe haven meski prospek suku bunga tinggi tetap membayangi.
Key Takeaways
- Ketegangan di Timur Tengah tingkatkan permintaan safe haven.
- Suku bunga tinggi batasi daya tarik emas sebagai investasi.
- Data ekonomi mendatang dapat pengaruhi kebijakan suku bunga.
Penguatan harga emas didorong oleh situasi geopolitik di Timur Tengah. Bukan hanya emas, harga minyak juga naik saat ketegangan antara Iran dan Israel meningkat. Investor melihat aset aman seperti emas sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian.
Pada perdagangan terakhir, harga emas spot naik 0,5% ke USD 4.513,54 per ounce. Kontrak emas berjangka AS menutup pada USD 4.524,30. Meski naik dalam dua hari terakhir, harga emas secara bulanan justru turun lebih dari 13%, kinerja terburuk sejak 2008.
Sentimen dukungan juga datang dari pernyataan Jerome Powell dari Federal Reserve AS. Meski ada ancaman inflasi energi, Powell menyatakan ekspektasi inflasi AS tetap terjaga. Pernyataan ini membuat pelaku pasar waspada terhadap arah suku bunga.
Analis Jim Wyckoff menekankan bahwa pasar masih menunggu perkembangan di Timur Tengah. Harga minyak dan indeks dolar AS akan semakin menjadi fokus pasar dalam waktu dekat.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS yang dirilis pekan ini. Data tersebut berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga global dan pergerakan harga emas selanjutnya.
Referensi:
- Liputan6, Harga Emas Dunia Naik Dua Hari Beruntun, Tapi Cetak Penurunan Bulanan. Diakses 31 Maret 2026
- MetroTV, Harga Emas Naik Tipis di Tengah Aksi 'Borong' Investor. Diakses 31 Maret 2026
- Bloomberg Technoz, Harga Emas Sudah Naik 2 Hari Beruntun, Pilih Jual atau Beli?. Diakses 31 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












