Gotrade News - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam setelah konflik militer AS-Israel dengan Iran mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brent crude sempat naik hingga 13% dan menembus $82 per barel, level tertinggi sejak awal 2025, menurut laporan Seeking Alpha pada Sabtu (1/3).
Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan energi global.
Key Takeaways:
- Harga Brent crude sempat melonjak 13% ke $82 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz
- Setidaknya 150 tanker berhenti berlayar melewati selat tersebut karena risiko keamanan dan lonjakan biaya asuransi
- Analis memperingatkan harga minyak bisa menembus $100 jika konflik berkepanjangan
Menurut laporan BBC pada Minggu (2/3), setidaknya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz. UK Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) melaporkan dua kapal terkena proyektil tak dikenal yang menyebabkan kebakaran, sementara ledakan terjadi sangat dekat dengan kapal ketiga.
Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak melewati selat tersebut. Sekitar 150 tanker dilaporkan berhenti di perairan terbuka Teluk, meski beberapa kapal berbendera Iran dan Tiongkok tetap melintas, menurut platform pelacakan kapal Kpler.
Homayoun Falakshahi dari Kpler menyebut selat tersebut secara efektif sudah tertutup. Biaya asuransi pelayaran melonjak drastis sehingga operator kapal memilih tidak mengambil risiko.
Eskalasi Geopolitik Memperburuk Situasi
Ketegangan meningkat tajam setelah serangan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan menyerang target-target di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
Presiden Donald Trump menyatakan pasukan AS telah menghancurkan beberapa kapal angkatan laut Iran. Operasi militer masih berlanjut tanpa tanda-tanda de-eskalasi dalam waktu dekat.
Grup pelayaran kontainer Denmark, Maersk, mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Kapal-kapal dialihkan melewati Tanjung Harapan Baik yang memakan waktu lebih lama.
Dampak ke Pasar Energi dan Inflasi
OPEC+ tetap melanjutkan rencana kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan depan. Namun angka tersebut hanya mewakili kurang dari 0,2% permintaan global, sehingga dampaknya terhadap stabilisasi harga dinilai minim.
Analis Citigroup memperkirakan Brent akan diperdagangkan di kisaran $80 hingga $90 dalam waktu dekat. Skenario ini mengasumsikan adanya pergeseran kepemimpinan di Iran atau de-eskalasi dalam satu hingga dua pekan.
Analis Goldman Sachs mencatat pergerakan tanker sudah sangat terganggu akibat sikap hati-hati perusahaan pelayaran dan asuransi. Meski demikian, belum ada kerusakan terkonfirmasi pada fasilitas produksi atau infrastruktur ekspor.
Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari atau sekitar 3% dari output global. Posisi strategisnya di Selat Hormuz memberi pengaruh besar terhadap aliran pasokan ke importir utama seperti Tiongkok, India, dan Jepang.
Jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang, lonjakan biaya energi berpotensi mendorong inflasi. Kondisi ini bisa mempersulit keputusan kebijakan bank sentral termasuk Federal Reserve terkait arah suku bunga.
Pasar kini fokus mengamati apakah pelayaran di Selat Hormuz bisa kembali normal atau konflik ini memicu guncangan minyak berkepanjangan. Beberapa analis memperingatkan harga bisa menembus $100 per barel jika situasi tidak mereda.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
Seeking Alpha, Oil jumps to multiyear high as Hormuz disruption shakes global supply. Diakses pada 2 Mar 2026
-
BBC, Oil prices rise after ships attacked near Strait of Hormuz. Diakses pada 2 Mar 2026
-
Featured Image: Shutterstock












