Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal nuklir terbaru Iran. Brent ditutup di USD 104,47 per barel (+3,14%) sementara WTI menguat ke USD 98,51 per barel (+3,24%).
Lonjakan terjadi karena pasar menilai jalur diplomatik Washington-Teheran semakin sempit dalam waktu dekat. Selat Hormuz yang masih sebagian besar tertutup menambah tekanan pada rantai pasok energi global.
Key Takeaways:
- Brent +3,14% ke USD 104,47/barel, WTI +3,24% ke USD 98,51/barel pasca penolakan Trump.
- Selat Hormuz hampir tertutup sejak Februari 2026, dua tanker bahkan mematikan sistem pelacakan.
- CEO Saudi Aramco memperingatkan pasar energi global belum akan normal sebelum 2027.
Diplomasi Buntu, Risiko Pasokan Meninggi
Menurut Kompas, Brent sempat melonjak 4,2% ke USD 105,54 per barel pada perdagangan intraday. Trump menyebut respons Iran sebagai "totally unacceptable" lewat unggahan media sosialnya.
Iran menawarkan relokasi uranium ke negara ketiga namun menolak membongkar fasilitas nuklirnya. Sikap ini dinilai pasar sebagai sinyal bahwa kesepakatan damai jangka pendek semakin sulit tercapai.
Dilansir Kumparan, data Reuters menunjukkan Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup hingga sesi perdagangan terakhir. Jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya.
Warren Patterson dari ING menilai optimisme pasar terhadap kesepakatan cepat AS-Iran kini memudar. "Optimisme pasar terhadap kesepakatan AS-Iran yang cepat memudar, mendorong harga minyak lebih tinggi," ujarnya.
Sentimen risiko ini langsung tercermin pada saham produsen seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX). Keduanya kerap menjadi proxy investor global ketika harga minyak menguat tajam dalam waktu singkat.
Analis mencatat selisih Brent dan WTI yang melebar mencerminkan premi risiko geopolitik di kawasan Teluk. Kontrak berjangka jangka pendek menunjukkan kondisi backwardation yang menandakan ketatnya pasokan fisik di pasar tunai.
Selat Hormuz dan Sinyal Pasar Energi 2027
Melansir Kompas, dua tanker minyak baru-baru ini menonaktifkan sistem pelacakan saat keluar Selat Hormuz. Praktik ini biasanya muncul ketika risiko geopolitik di jalur pengapalan meningkat.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperkirakan pasar energi global belum akan kembali normal sebelum 2027 jika gangguan pengapalan berlanjut. Ia mencatat dunia kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan akibat konflik Timur Tengah.
Tony Sycamore dari IG mengatakan fokus pasar kini bergeser ke agenda diplomatik berikutnya. "Perhatian pasar kini sepenuhnya beralih ke kunjungan Presiden Trump ke China pekan ini," ujarnya.
Trump dijadwalkan ke Beijing pada Rabu untuk membahas isu Iran bersama Presiden Xi Jinping. Pelaku pasar berharap diplomasi Washington-Beijing dapat membuka ruang penurunan eskalasi di Timur Tengah.
Untuk investor ritel, instrumen seperti United States Oil Fund (USO) menjadi salah satu cara mengekspresikan pandangan terhadap arah harga minyak. Eksposur ke produsen besar tetap menjadi alternatif populer di tengah lonjakan harga komoditas energi.
Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan diplomasi Washington-Beijing dan status pengapalan di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Setiap perubahan retorika Trump atau Iran dapat memicu pergerakan tajam baru pada harga Brent maupun WTI.
Sumber:
- Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen Usai Trump Tolak Proposal Iran (Kompas)
- Harga Minyak Melonjak 3 Persen Imbas Gagalnya Kesepakatan Damai AS-Iran (Kumparan)
- Harga Minyak Dunia Melonjak Usai AS dan Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai (Kompas)












