Harga Minyak Menuju USD100 Imbas Eskalasi Timur Tengah
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Gotrade News - Harga minyak mentah bergerak menuju level USD100 per barel saat eskalasi di Timur Tengah memanaskan kekhawatiran pasokan. Brent ditutup USD97,81 dan WTI USD96,02 pada perdagangan 3 Juni 2026.
Lonjakan ini didorong ketegangan AS-Iran dan ancaman gangguan jalur Selat Hormuz yang vital. Bagi investor, kenaikan harga minyak ini menjadi katalis positif untuk saham energi besar AS.
Key Takeaways
Brent dan WTI menguat dua hari beruntun menuju ambang USD100 per barel.
Komentar Netanyahu dan ketegangan AS-Iran menambah premi risiko geopolitik.
Stok minyak AS yang menyusut tajam memperkuat tekanan kenaikan harga.
WTI sudah melonjak hampir 10 persen dalam tiga sesi perdagangan berturut-turut. Reli ini mencerminkan kecemasan pasar terhadap pasokan global yang kian rapuh.
Menurut Liputan6, Perdana Menteri Netanyahu menyatakan ke CNBC bahwa Israel dan AS siap melakukan aksi militer terhadap Iran bila diperlukan. Pernyataan itu langsung menambah premi risiko pada harga minyak.
Pemicu Pasokan Yang Menekan Pasar
Selat Hormuz menjadi titik tersempit yang paling diwaspadai pelaku pasar saat ini. Iran menguasai jalur pelayaran tersebut, sehingga ekspor minyak masih jauh di bawah level sebelum konflik.
Ryan McKay, ahli strategi komoditas senior TD Securities, memperingatkan pasar akan kehilangan pasokan signifikan hingga November mendatang. Estimasinya mencakup miliaran barel produksi serta pasokan yang berisiko tergerus akibat ketidakpastian geopolitik.
Tekanan pasokan diperkuat oleh penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat yang tajam. Dilansir Kabar Bursa, stok minyak AS turun 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan lalu.
Angka penurunan pada pekan yang berakhir 29 Mei itu dua kali lipat dari perkiraan analis sebesar 4 juta barel. Stok di Cushing, Oklahoma, juga menyusut enam pekan beruntun dan kini mendekati level operasional minimum.
Eskalasi militer turut memperburuk sentimen pasar pada awal pekan ini. Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain, sementara militer AS menyerang Pulau Qeshm.
Bob Yawger dari Mizuho menilai peluang tercapainya gencatan senjata tampak semakin memburuk. Pandangan itu memperkuat ekspektasi premi risiko yang lebih tinggi pada harga minyak global.
Emril Jamil, analis senior LSEG, menyebut pasar menambahkan premi risiko lebih besar di tengah kebuntuan diplomatik. Menurut Bloomberg Technoz, Iran menegaskan belum ada kemajuan nyata dalam pembicaraan dengan Washington.
Giovanni Staunovo dari UBS menyoroti penurunan besar persediaan minyak mentah AS sebagai pendorong utama harga. Kombinasi pasokan yang ketat dan risiko geopolitik membuat tren harga minyak condong terus menguat.
Peluang Bagi Saham Energi AS
Kenaikan harga minyak secara historis mengangkat margin perusahaan energi terintegrasi besar. Saham seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) cenderung diuntungkan dari harga crude yang lebih tinggi.
Produsen hulu seperti ConocoPhillips (COP) juga berpotensi menikmati arus kas yang lebih kuat. Investor Indonesia bisa mengakses ketiga saham ini melalui Gotrade untuk diversifikasi ke sektor energi global.
Sejumlah analis menilai premi risiko geopolitik akan bertahan selama kebuntuan diplomatik antara AS dan Iran berlanjut. Selama Selat Hormuz tetap rawan, sentimen harga minyak global cenderung condong ke atas dalam waktu dekat.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.