Gotrade News - Ketegangan militer di Timur Tengah kembali memicu gejolak pasar energi global minggu ini. Harga minyak mentah melonjak tajam menyusul ancaman blokade di Selat Hormuz.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris berhenti total sejak Sabtu (28/02). Kondisi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
Key Takeaways
-
Harga minyak Brent melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025.
-
Gangguan produksi energi terjadi secara serentak di Arab Saudi dan Qatar.
-
Lonjakan biaya bahan bakar berisiko menekan pasar saham secara lebih luas.
Efek Domino Rantai Pasokan
Serangan pesawat tak berawak memicu penutupan kilang Aramco pada Senin (02/03). Fasilitas tersebut biasanya memproses ratusan ribu barel minyak setiap harinya.
QatarEnergy juga menghentikan produksi gas alam cair pada hari yang sama. Irak kemudian memangkas produksi minyak secara drastis pada Selasa (03/03).
Pemangkasan ini terjadi karena kapasitas penyimpanan terancam penuh akibat kebuntuan logistik. Pasar merespons rentetan gangguan logistik ini dengan sangat cepat.
Lonjakan Harga dan Respons Kebijakan
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik mencapai level tertinggi baru. Harga patokan internasional ini menyentuh angka 81,40 dolar per barel.
Menurut data pasar, harga tersebut melonjak sekitar 12% sejak akhir pekan lalu. Kenaikan harga bahan baku ini langsung berdampak pada biaya bahan bakar.
Harga bensin tanpa timbal di Amerika Serikat melompat signifikan dalam semalam. Menurut laporan AAA, lonjakan harian ini adalah yang tertinggi dalam empat tahun.
Pemerintah Amerika Serikat segera mengambil langkah intervensi guna meredam kepanikan pasar. Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pengawalan angkatan laut untuk kapal tanker.
Pemerintah federal juga akan memberikan jaminan asuransi untuk perdagangan maritim. Langkah ini penting setelah perusahaan asuransi membatalkan pertanggungan risiko perang.
Menurut data Kpler, negara kawasan Amerika hanya mengimpor sedikit minyak dari sana. Sebaliknya, Tiongkok sangat bergantung pada jalur tersebut untuk pasokan energi mereka.
Investor perlu mewaspadai dampak inflasi energi terhadap pasar saham secara luas. Pergerakan S&P 500 ETF sering menjadi tolak ukur sentimen pasar saat ini.
Menurut konsultan industri Rob Carpenter, perbaikan infrastruktur domestik sangat krusial saat ini. Langkah ini dapat mengurangi paparan konsumen terhadap gangguan pasokan global.
Konflik ini diproyeksikan masih akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Investor harus bersiap menghadapi volatilitas pasar energi yang berpotensi tetap tinggi.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
The Daily Upside, Energy Market Disruption From Iran Conflict Flows into Gas Pumps. Diakses 4 Maret 2026
-
Featured Image: Shutterstock












