Gotrade News - Harga minyak dunia melemah sekitar 1% pada Senin (23/02) seiring pasar mencerna perkembangan negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Brent crude turun 87 sen ke level US$70,89 per barel, sementara WTI terkoreksi 85 sen ke US$65,63 per barel, menurut data yang dilaporkan CNA.
Penurunan ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan ada peluang besar untuk solusi diplomatik. Menurut laporan Bloomberg, Araghchi mengatakan bahwa kesepakatan berbasis win-win sudah dalam jangkauan dan ia berencana bertemu utusan khusus AS Steve Witkoff di Jenewa.
Key Takeaways
- Putaran ketiga negosiasi nuklir AS-Iran dijadwalkan Kamis di Jenewa, dan hasilnya bisa menentukan arah premi risiko minyak senilai US$10 per barel
- Kenaikan tarif impor AS dari 10% ke 15% oleh Trump menambah tekanan pada prospek permintaan energi global
- Goldman Sachs memproyeksikan pasar minyak tetap surplus di 2026, dengan revisi naik target Brent Q4 ke US$60 per barel
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengonfirmasi bahwa pembicaraan putaran ketiga akan berlangsung Kamis di Jenewa. Menurut Reuters, pejabat senior Iran mengindikasikan kesiapan memberikan konsesi pada program nuklir dengan syarat pencabutan sanksi dan pengakuan hak pengayaan uranium.
Tarif Baru Trump Tambah Tekanan
Selain faktor diplomatik, pasar juga merespons keputusan tarif baru dari Presiden Trump pada Sabtu (22/02). Trump menaikkan tarif sementara dari 10% menjadi 15% untuk seluruh impor AS setelah Mahkamah Agung membatalkan program tarif sebelumnya, menurut CNA.
Analis IG Markets Tony Sycamore menilai berita tarif tersebut memicu arus penghindaran risiko di pasar. Dampaknya terlihat pada harga emas, futures ekuitas AS, dan juga turut menekan harga minyak mentah.
Keputusan tarif ini meredam kekhawatiran konflik militer AS-Iran yang sebelumnya mendorong Brent dan WTI naik lebih dari 5% pekan lalu. Meski demikian, ancaman militer tetap menjadi variabel penting yang belum sepenuhnya hilang dari kalkulasi pasar.
Premi Risiko dan Proyeksi Surplus
Menurut Vandana Hari dari Vanda Insights, Brent saat ini mengandung premi risiko Iran setidaknya US$10 per barel. Selama ancaman serangan AS masih membayangi upaya diplomasi dan armada angkatan laut AS masih berkumpul di Timur Tengah, harga minyak sulit turun signifikan.
Selat Hormuz menjadi titik kritis dalam kalkulasi risiko ini karena merupakan jalur transit utama kargo minyak dan LNG global. Menurut Bloomberg, Arab Saudi, Irak, dan Kuwait semuanya mengirim minyak melalui selat tersebut, dengan mayoritas kargo menuju Asia.
Goldman Sachs memproyeksikan pasar minyak global tetap surplus di 2026, dengan asumsi tidak ada gangguan pasokan terkait Iran. Bank tersebut menaikkan proyeksi Brent kuartal keempat 2026 sebesar US$6 menjadi US$60 per barel dan WTI ke US$56 per barel, didorong oleh penurunan stok di negara-negara OECD.
Namun, analis Goldman Sachs juga mencatat risiko penurunan harga lebih lanjut. Potensi pelonggaran sanksi terhadap Iran dan Rusia bisa mempercepat penambahan pasokan dan memberi tekanan turun US$5 hingga US$8 pada harga kuartal keempat 2026.
Haris Khurshid dari Karobaar Capital menyarankan pelaku pasar memantau time spread, persediaan diesel dan gasoil, serta disiplin OPEC. Menurut Bloomberg, jika pasar produk minyak mengetat atau kurva bergerak ke backwardation yang lebih kuat, itu menjadi sinyal bahwa tekanan harga bersifat riil.
Saat ini, prompt spread Brent telah menyempit ke 43 sen per barel, dibandingkan lebih dari US$1 pada akhir Januari. Penyempitan ini menunjukkan bahwa meski ketegangan geopolitik masih ada, pasar mulai memperhitungkan skenario diplomatik yang lebih konstruktif.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
Bloomberg, Oil Drops as Traders Weigh Outlook for Iran Nuclear Agreement. Diakses pada 23 Feb 2026
-
CNA Asia, Oil drops as US and Iran prepare for further nuclear talks. Diakses pada 23 Feb 2026
-
Featured Image: Shutterstock











