Harga Minyak Turun, Konflik Saudi-Houthi Tahan Pelemahan

Ringkasan
- Brent turun 1,48% ke US$105,05 dan WTI turun 1,57% ke US$92,27 per barel pada Selasa (13/10/2026), menurut CNBC.
- Prospek tambahan pasokan solar Rusia setelah kebijakan Trump menekan harga, sementara konflik Saudi-Houthi menahan pelemahan.
- Serangan Houthi ke bandara Riyadh menambah kekhawatiran atas pelayaran di Selat Bab al-Mandeb, jalur alternatif Selat Hormuz, menurut Al Jazeera.
Gotrade News - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Menurut CNBC, Brent turun 1,48% ke US$105,05 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,57% ke US$92,27 per barel.
Pelemahan dipicu prospek masuknya lebih banyak pasokan energi Rusia ke pasar global. Namun, kekhawatiran atas konflik Arab Saudi dan Houthi di Yemen menahan penurunan harga lebih dalam, seperti dilaporkan CNBC.
Kebijakan Trump soal Solar Rusia
Presiden AS Donald Trump pada Senin membela keputusan pemerintahannya untuk melonggarkan sementara pembatasan pasokan solar (diesel) Rusia. Melansir CNBC, langkah ini menuai kritik dari anggota parlemen AS lintas partai yang menilai kebijakan tersebut bisa melemahkan sanksi terhadap Moskow terkait perang di Ukraina.
Lewat unggahan di Truth Social, Trump menyebut Uni Eropa telah menghabiskan miliaran dolar untuk impor energi Rusia dan menegaskan keputusannya tepat bagi warga Amerika. Kesepakatan itu memungkinkan Rusia memasok solar ke pasar AS dan global selama enam bulan.
Goldman Sachs: Dampak Solar Rusia Terbatas
Goldman Sachs menilai tambahan pasokan solar Rusia kemungkinan tidak banyak meredakan tekanan harga bahan bakar global. Menurut catatan bank tersebut yang dikutip CNBC, tambahan 800.000 metrik ton, atau sekitar 6 juta barel, hanya akan menurunkan harga grosir solar di Gulf Coast AS dan Eropa sebesar US$1 hingga US$2 per barel.
Goldman juga mencatat gangguan kilang Rusia melonjak 3 juta barel per hari dibanding setahun sebelumnya, sehingga membatasi kemampuan Moskow menaikkan produksi. Persediaan solar AS tercatat turun 14% secara tahunan, sementara stok yang terpantau di China turun 11%.
Indikator | Data |
Brent (13/10) | US$105,05 per barel, turun 1,48% |
WTI (13/10) | US$92,27 per barel, turun 1,57% |
Stok solar AS | Turun 14% secara tahunan |
Stok solar China (terpantau) | Turun 11% |
Ekspor solar lewat laut global | Turun 1,4 juta barel per hari (20%) secara tahunan |
Bank tersebut mengaitkan kekurangan ini dengan tujuh bulan berturut-turut penurunan produksi solar global, dengan ekspor lewat laut anjlok 1,4 juta barel per hari atau 20% secara tahunan.
Serangan Houthi ke Bandara Riyadh
Dari sisi geopolitik, militan Houthi yang didukung Iran menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10). Dilansir Al Jazeera, koalisi pimpinan Saudi menyebut serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Sehari kemudian, sebuah proyektil kembali menghantam bandara tersebut dan menewaskan satu orang serta melukai 11 orang, menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Saudi (GACA).
Menurut Al Jazeera, bandara Riyadh telah diserang empat kali dalam lima hari dan ditutup sejak serangan Sabtu. Eskalasi ini menambah tekanan pada pasokan dan harga minyak global, serta pada pelayaran komersial melalui Selat Bab al-Mandeb, jalur alternatif Selat Hormuz.
Analis yang dikutip Al Jazeera khawatir intervensi AS dapat mendorong Houthi menghentikan pelayaran di Bab al-Mandeb sehingga aliran minyak dari kawasan Teluk makin terbatas. Trump sendiri menyatakan sedang menimbang untuk ikut melawan Houthi dan berniat berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.
Arti Gejolak Minyak bagi Saham Energi AS
Bagi investor saham AS, pergerakan Brent dan WTI menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga saham emiten energi seperti Exxon Mobil (XOM), Chevron (CVX), dan ConocoPhillips (COP). Pelaku pasar kini menimbang dua sentimen yang saling tarik, yakni pasokan Rusia dan risiko di Bab al-Mandeb, seperti dilaporkan CNBC dan Al Jazeera.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.












