Kenali 9 Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham Sebelum Mulai Investasi

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Kenali 9 Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham Sebelum Mulai Investasi

Harga saham bisa bergerak cepat karena pasar terus merespons informasi baru, mulai dari laporan keuangan dan proyeksi manajemen hingga suku bunga, regulasi, dan kondisi ekonomi global.

Pasar juga tidak hanya menilai kinerja perusahaan saat ini, tetapi juga prospeknya ke depan. Karena itu, perusahaan yang masih tumbuh pun bisa mengalami penurunan harga jika hasilnya belum sesuai ekspektasi.

Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa membedakan pergerakan sesaat dari perubahan yang benar-benar memengaruhi bisnis. Berikut sembilan faktor yang paling sering menggerakkan harga saham.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Faktor dari Dalam Perusahaan

Kita mulai dari hal yang paling dekat dengan bisnisnya, yaitu kinerja, strategi, dan keputusan manajemen.

1. Kinerja keuangan dan proyeksi manajemen

Laporan keuangan menjadi salah satu sumber utama untuk menilai kondisi perusahaan. Investor biasanya melihat apakah bisnis masih bertumbuh, menghasilkan laba, dan memiliki arus kas yang cukup sehat.

Beberapa metrik yang umum diperhatikan antara lain:

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu
  • Pertumbuhan pendapatan

  • Earnings per Share atau EPS

  • Margin operasional

  • Arus kas operasi dan free cash flow

  • Jumlah utang

  • Proyeksi atau guidance dari manajemen

Namun, membaca laporan keuangan tidak cukup hanya dengan melihat apakah angkanya naik atau turun.

Misalnya, laba perusahaan tumbuh 15%, tetapi pasar sebelumnya mengharapkan pertumbuhan 25%. Hasil tersebut tetap bisa dianggap mengecewakan. Sebaliknya, perusahaan yang masih merugi dapat mengalami kenaikan harga jika kerugiannya mengecil dan prospek bisnisnya mulai membaik.

Untuk perusahaan publik AS, laporan tahunan, laporan kuartalan, dan pengumuman material dapat dicari melalui sistem EDGAR milik U.S. Securities and Exchange Commission atau SEC. Dokumen tersebut berisi laporan keuangan, risiko bisnis, serta penjelasan manajemen mengenai kondisi operasional perusahaan.

2. Posisi perusahaan di industrinya

Angka keuangan perlu dibaca bersama kondisi bisnis di baliknya. Pertumbuhan yang kuat belum tentu bertahan jika perusahaan mulai kehilangan pelanggan atau menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Pangsa pasar

  • Kekuatan merek (brand equity)

  • Kemampuan menaikkan harga

  • Loyalitas pelanggan

  • Kecepatan inovasi

  • Ketergantungan pada satu produk

  • Hambatan bagi pesaing baru

Dua perusahaan dalam industri yang sama bisa mencatat pertumbuhan pendapatan yang mirip. Namun, salah satunya mungkin harus mengeluarkan biaya promosi jauh lebih besar untuk mempertahankan pelanggan. Perbedaan seperti ini bisa memengaruhi margin dan potensi laba pada masa depan.

Jadi, jangan menilai perusahaan sendirian. Bandingkan juga kinerjanya dengan pesaing dan kondisi industri secara keseluruhan.

3. Keputusan manajemen dan aksi korporasi

Keputusan manajemen dapat mengubah cara pasar menilai perusahaan. Contohnya adalah peluncuran produk, pergantian pimpinan, akuisisi, pembagian dividen, buyback saham, atau penerbitan saham baru.

Dampaknya tidak selalu langsung positif atau negatif.

  • Buyback dapat mengurangi jumlah saham beredar, tetapi manfaatnya tetap bergantung pada harga pembelian dan kondisi keuangan perusahaan.

  • Akuisisi bisa membuka sumber pertumbuhan baru, tetapi juga dapat menambah utang atau gagal menghasilkan sinergi sesuai rencana.

  • Penerbitan saham baru dapat menyediakan dana untuk ekspansi. Di sisi lain, langkah ini juga dapat mengurangi porsi kepemilikan pemegang saham lama melalui dilusi.

Sebelum bereaksi terhadap aksi korporasi, periksa tujuan, nilai transaksi, sumber pendanaan, dan dampaknya terhadap neraca perusahaan.

Faktor Pasar dan Perilaku Investor

Selain kondisi perusahaan, harga saham juga bisa bergerak karena cara pasar bereaksi terhadap informasi dan ekspektasi.

4. Ekspektasi, berita, dan sentimen pasar

Harga saham tidak hanya bergerak berdasarkan fakta yang sudah terjadi. Harga juga mencerminkan perkiraan pasar tentang apa yang mungkin terjadi berikutnya.

Itulah sebabnya saham bisa naik menjelang laporan keuangan atau peluncuran produk. Ketika informasinya benar-benar diumumkan, harga justru bisa turun karena kabar baik tersebut sudah diperhitungkan sebelumnya.

Sentimen pasar dapat dipengaruhi oleh:

  • Berita ekonomi

  • Rumor

  • Perubahan rekomendasi analis

  • Komentar tokoh publik

  • Tren media sosial

  • Ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah

Menurut penjelasan mengenai risiko saham dari Investor.gov, harga saham dapat dipengaruhi oleh kondisi perusahaan sekaligus peristiwa politik dan pasar yang berada di luar kendali perusahaan.

Informasi yang ramai dibicarakan belum tentu berdampak besar pada bisnis. Sebelum mengambil keputusan, cek apakah sumbernya resmi, informasinya sudah dikonfirmasi, dan pengaruhnya cukup material terhadap pendapatan atau prospek perusahaan.

5. Aktivitas investor institusional dan orang dalam

Dana pensiun, hedge fund, perusahaan asuransi, dan manajer investasi mengelola dana dalam jumlah besar. Ketika mereka membeli atau menjual dalam volume besar, harga saham dapat ikut bergerak, terutama pada saham yang likuiditasnya terbatas.

Pembelian saham oleh orang dalam kadang dianggap sebagai tanda keyakinan terhadap perusahaan. Meski begitu, satu transaksi belum cukup untuk menjadi dasar keputusan investasi.

Penjualan oleh orang dalam juga tidak otomatis berarti prospek perusahaan memburuk. Saham bisa dijual untuk kebutuhan pajak, diversifikasi kekayaan, rencana penjualan yang sudah dibuat sebelumnya, atau keperluan pribadi.

Karena itu, data institusional dan transaksi orang dalam sebaiknya dipakai sebagai informasi tambahan, bukan sinyal tunggal untuk ikut membeli atau menjual.

6. Supply, demand, volume, dan likuiditas

Harga saham terbentuk ketika order beli dan jual bertemu di pasar. Jika pembeli bersedia membayar lebih tinggi, harga dapat naik. Sebaliknya, jika tekanan jual lebih besar, harga bisa turun.

Namun, supply dan demand lebih tepat dipahami sebagai mekanisme pembentukan harga. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang membuat investor ingin membeli atau menjual?

Likuiditas juga berpengaruh. Pada saham dengan volume perdagangan rendah, satu order besar dapat menggerakkan harga lebih jauh. Selisih harga bid dan ask juga bisa lebih lebar sehingga harga transaksi berbeda dari angka terakhir yang terlihat.

Lonjakan volume menunjukkan bahwa aktivitas pasar sedang meningkat. Namun, volume tinggi saja tidak memberi tahu apakah harga akan terus bergerak ke arah yang sama atau justru berbalik. Penyebab di balik lonjakan transaksi tetap perlu diperiksa.

Faktor Ekonomi dan Global

Ada juga faktor yang datang dari luar perusahaan dan sulit dikendalikan, mulai dari suku bunga sampai kondisi geopolitik.

7. Suku bunga, inflasi, dan kondisi ekonomi

Keputusan The Federal Reserve sering menjadi perhatian pasar saham AS. Berdasarkan penjelasan resmi mengenai kebijakan moneter Federal Reserve, bank sentral AS menjalankan kebijakan untuk mendukung tingkat pekerjaan maksimum dan stabilitas harga.

Ketika suku bunga meningkat, biaya pinjaman perusahaan dapat ikut naik. Investor juga memiliki alternatif instrumen berbunga yang lebih menarik sehingga valuasi sebagian saham bisa tertekan.

Saham growth sering lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga karena sebagian besar valuasinya bergantung pada perkiraan laba pada masa depan. Meski begitu, hubungan ini tidak selalu berjalan lurus. Saham tetap bisa naik dalam kondisi suku bunga tinggi jika pertumbuhan bisnis dan labanya cukup kuat.

Selain suku bunga, pasar biasanya memperhatikan:

  • Inflasi

  • Pertumbuhan ekonomi

  • Tingkat pengangguran

  • Belanja konsumen

  • Aktivitas manufaktur

  • Kondisi kredit

Data ekonomi sebaiknya tidak dibaca secara terpisah. Inflasi yang turun, misalnya, dapat terlihat positif. Namun, jika penurunannya terjadi bersamaan dengan melemahnya konsumsi dan naiknya pengangguran, pasar bisa lebih khawatir terhadap perlambatan ekonomi.

8. Kebijakan pemerintah dan regulasi

Perubahan aturan dapat memengaruhi biaya, pendapatan, dan cara perusahaan menjalankan bisnis.

Sektor yang biasanya cukup sensitif terhadap regulasi antara lain:

  • Teknologi

  • Keuangan

  • Energi

  • Farmasi dan layanan kesehatan

  • Kendaraan listrik

  • Telekomunikasi

Subsidi atau insentif pajak dapat membantu meningkatkan permintaan. Sebaliknya, pembatasan perdagangan, perubahan pajak, aturan privasi, dan pengawasan antimonopoli dapat menambah biaya atau membatasi ekspansi.

Jangan langsung menyimpulkan dampak regulasi hanya dari judul berita. Periksa isi aturannya, perusahaan mana yang terdampak, kapan aturan berlaku, dan apakah perusahaan memiliki cara untuk menyesuaikan operasinya.

9. Kurs dan peristiwa global

Perusahaan multinasional memperoleh pendapatan dan mengeluarkan biaya dalam berbagai mata uang. Perubahan kurs dapat membuat pendapatan luar negeri terlihat lebih besar atau lebih kecil ketika dikonversi ke dolar AS.

Bagi investor Indonesia, USD/IDR juga memengaruhi hasil investasi ketika nilainya dihitung kembali dalam rupiah. Risiko ini dikenal sebagai foreign currency risk atau risiko mata uang asing.

Misalnya, harga saham AS naik dalam dolar, tetapi keuntungan dalam rupiah bisa lebih kecil jika dolar melemah terhadap rupiah. Sebaliknya, penguatan dolar bisa menambah nilai rupiah dari investasi meskipun harga sahamnya tidak banyak berubah.

Hasil akhirnya juga dipengaruhi biaya transaksi, spread konversi mata uang, dan ketentuan platform.

Peristiwa global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, pandemi, atau perubahan harga komoditas juga bisa berdampak berbeda pada setiap sektor. Kenaikan harga minyak mungkin membantu sebagian perusahaan energi, tetapi menambah biaya bagi maskapai dan perusahaan logistik.

Diversifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu saham, sektor, atau jenis aset. Namun, Investor.gov menjelaskan bahwa diversifikasi tidak menjamin portofolio terhindar dari kerugian, terutama ketika pasar secara keseluruhan sedang turun.

Saat Harga Saham Turun, Apa yang Perlu Dicek?

Tidak ada aturan bahwa sentimen selalu berdampak singkat atau regulasi pasti berdampak panjang. Faktor yang sama dapat memberikan efek berbeda pada setiap perusahaan.

Daripada memberi skor yang berlaku untuk semua kondisi, gunakan beberapa pertanyaan berikut.

1. Apa pemicu awalnya?

Cari tahu apakah penurunan terjadi setelah laporan keuangan, perubahan guidance, berita regulasi, data ekonomi, atau pelemahan pasar secara luas.

2. Apakah hanya satu saham yang turun?

Jika seluruh sektor ikut melemah, penyebabnya mungkin berkaitan dengan industri atau kondisi ekonomi. Jika hanya satu perusahaan yang turun, cek apakah ada masalah yang lebih spesifik.

3. Apa yang berubah dari bisnisnya?

Perhatikan pendapatan, margin, laba, arus kas, utang, jumlah pelanggan, dan proyeksi manajemen. Penurunan harga perlu mendapat perhatian lebih jika disertai pelemahan bisnis yang konsisten.

4. Apakah pasar hanya bereaksi terhadap ekspektasi?

Perusahaan dapat mencatat hasil yang cukup baik tetapi tetap dianggap mengecewakan karena ekspektasi sebelumnya terlalu tinggi. Bedakan hasil yang meleset tipis dengan perubahan serius pada prospek bisnis.

5. Apakah valuasinya sekarang benar-benar lebih menarik?

Harga yang lebih rendah tidak otomatis berarti saham sudah murah. Jika perkiraan laba ikut turun atau risikonya bertambah, estimasi nilai wajarnya juga bisa berubah.

6. Apakah alasan awal kamu membeli masih berlaku?

Kembali lihat alasan awal kepemilikan saham tersebut. Jika alasan itu sudah tidak sesuai dengan kondisi terbaru, investasimu mungkin perlu dievaluasi.

Namun, hindari membuat keputusan hanya karena panik melihat pergerakan harga dalam satu hari.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Memahami faktor penggerak harga saham saja belum cukup. Cara kita merespons informasi juga bisa menentukan kualitas keputusan investasi.

Menganggap setiap penurunan sebagai kesempatan membeli

Harga yang turun dapat membuat valuasi lebih menarik, tetapi juga bisa menandakan munculnya risiko baru. Cari tahu penyebabnya sebelum menambah posisi.

Mengikuti investor besar tanpa memahami konteksnya

Manajer investasi dapat memiliki strategi, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko yang berbeda darimu. Data portofolionya juga mungkin sudah terlambat saat dipublikasikan.

Bereaksi hanya dari judul berita

Judul berita sering menyederhanakan situasi yang sebenarnya lebih kompleks. Baca laporan perusahaan, dokumen resmi, atau penjelasan regulator sebelum mengambil kesimpulan.

Menilai perusahaan hanya dari harga saham

Saham seharga US$20 tidak otomatis lebih murah daripada saham seharga US$200. Perhatikan kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, laba, pertumbuhan, dan valuasinya.

Kesimpulan

Harga saham dipengaruhi oleh gabungan kinerja perusahaan, ekspektasi investor, kondisi pasar, kebijakan ekonomi, regulasi, kurs, dan peristiwa global.

Tidak semua pergerakan harga menunjukkan perubahan fundamental. Namun, tidak semua penurunan juga bisa dianggap sebagai gangguan sementara.

Saat harga bergerak tajam, cari tahu penyebabnya, baca informasi dari sumber resmi, lalu nilai apakah prospek bisnisnya benar-benar berubah. Cara ini lebih masuk akal daripada langsung mengikuti rasa takut atau antusiasme pasar.

Melalui Gotrade Indonesia, kamu dapat memantau lebih dari 600 saham AS dan mengakses produk pecahan saham mulai dari US$1. Layanan Gotrade Indonesia beroperasi melalui PT Valbury Asia Futures, pialang yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa efek.

Sebelum bertransaksi, pelajari karakteristik produk, biaya, ketentuan platform, serta risikonya.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade