Gotrade News - Harga minyak mentah dunia turun tajam pada Selasa (15/04), dipicu harapan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Minyak jenis Brent melemah USD 4,57 atau 4,6% menjadi USD 94,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) anjlok USD 7,80 atau 7,87% ke USD 91,20 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian terbesar sejak krisis Hormuz dimulai pada akhir Februari 2026.
Key Takeaways:
- Brent crude turun 4,6% ke USD 94,79 dan WTI turun 7,87% ke USD 91,20 per barel pada Selasa (15/04).
- AS dan Iran tengah mempersiapkan putaran kedua pembicaraan damai, dengan Pakistan disebut sebagai lokasi kandidat.
- IEA mencatat gangguan pasokan terbesar dalam sejarah, mencapai 10,1 juta barel per hari sejak penutupan Selat Hormuz.
Negosiasi Damai AS-Iran Jadi Katalis Utama
Pejabat dari kedua negara dilaporkan sedang menyiapkan putaran kedua pembicaraan damai dalam beberapa hari ke depan. Pakistan disebut sebagai kandidat lokasi pertemuan, meski opsi lain masih terbuka.
Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan jeda sementara pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, guna menghindari konfrontasi langsung dengan Angkatan Laut AS. Langkah ini dinilai pasar sebagai sinyal positif yang bisa meredakan ketegangan geopolitik yang telah berlangsung lebih dari 45 hari.
Dilansir Reuters via Kompas, analis John Kilduff dari Again Capital menyatakan, "Ada harapan di pasar bahwa akan ada hasil yang lebih baik." Ia menambahkan bahwa Brent lebih sensitif terhadap gangguan pasokan global dibanding WTI yang lebih mencerminkan distribusi domestik AS.
Namun Tamas Varga dari PVM Oil Associates mengingatkan pasar untuk tidak terlalu optimis. Menurutnya, penurunan harga ini belum memperhitungkan kerugian pasokan fisik yang sesungguhnya masih sangat besar.
Skala Krisis: Gangguan Pasokan Terbesar dalam Sejarah
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat gangguan pasokan mencapai 10,1 juta barel per hari sepanjang Maret 2026, angka terbesar dalam sejarah pencatatan energi global. Penutupan Selat Hormuz dan serangan infrastruktur di Timur Tengah menjadi penyebab utama defisit ini.
Harga minyak mentah North Sea untuk pengiriman jangka pendek sempat menembus USD 140 per barel, hampir dua kali lipat dibanding level sebelum konflik. Tekanan ini menyebabkan kilang-kilang minyak di seluruh dunia menghadapi lonjakan biaya operasional yang signifikan.
Angkatan Laut AS saat ini masih memberlakukan blokade di Selat Hormuz untuk membatasi ekspor minyak Iran. Operasi tersebut bahkan diperluas hingga Teluk Oman dan Laut Arab, meskipun kapal tanker terkait Iran masih bisa transit untuk tujuan non-Iran.
Menurut Bloomberg Technoz, IEA memproyeksikan konflik minyak global ini akan memicu kontraksi konsumsi energi dunia sepanjang 2026. Kenaikan harga minyak mentah fisik dan produk petroleum membebani konsumen serta menekan permintaan di berbagai pasar.
Beberapa investor menunjukkan optimisme hati-hati, dengan kontrak berjangka Brent untuk pengiriman akhir tahun menyiratkan keyakinan harga bisa turun ke sekitar USD 83 per barel jika negosiasi berhasil. Kontrak Desember tercatat naik sekitar 21% dibanding baseline sebelum 28 Februari, menunjukkan betapa dalamnya dampak krisis ini terhadap ekspektasi pasar jangka menengah.
Saham-saham energi besar seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) berpotensi tertekan jika harga minyak terus terkoreksi akibat perkembangan diplomasi. Di sisi lain, ConocoPhillips (COP) dan ETF energi seperti XLE menjadi instrumen yang dipantau investor untuk mengukur sentimen sektor energi secara keseluruhan.
Harga minyak WTI kini masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding level akhir Februari, sebelum krisis Hormuz dimulai. Pasar akan sangat bergantung pada hasil putaran kedua pembicaraan AS-Iran dalam beberapa hari ke depan untuk menentukan arah harga berikutnya.
Sources:
- Kompas Money, Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Bertaruh pada Negosiasi AS-Iran, 2026.
- Bloomberg Technoz, Harga Minyak Dunia Stabil Didorong Harapan Negosiasi AS-Iran, 2026.
- Kumparan Bisnis, Harga Minyak Mentah Turun Tipis Jadi USD 90 per Barel, 2026.












