Gotrade News - Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangannya. Langkah ini diambil untuk mengatasi gangguan pasokan yang diakibatkan oleh konflik di Iran, sebuah tindakan terbesar dalam sejarah IEA. Hal ini penting karena dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.
Langkah darurat ini diumumkan setelah Selat Hormuz hampir sepenuhnya berhenti kapal tanker, yang biasanya mengangkut sekitar 20% minyak dan gas global. Implikasi dari gangguan ini bisa sangat merugikan ekonomi global. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran menyulitkan pasokan energi dunia.
Konflik telah menyebabkan harga minyak melonjak, seperti harga minyak mentah Brent yang sempat mendekati USD120 per barel. Namun, harga menurun setelah Presiden AS menyatakan kemungkinan perang segera berakhir. Meski demikian, ketidakpastian pasar tetap tinggi karena serangan masih berlanjut.
IEA menyatakan pelepasan stok minyak ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menekankan pentingnya kelanjutan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz untuk stabilitas pasokan global. Selat ini adalah koridor krusial bagi minyak dunia.
Anggota IEA, termasuk negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut, akan melepas cadangan sesuai dengan keadaan masing-masing. Saat ini, negara anggota IEA menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat. Selain itu, terdapat 600 juta barel cadangan industri.
Kondisi ini merupakan krisis energi terbesar sejak krisis minyak dunia pada 1973. Sebelumnya, pelepasan minyak terbesar oleh negara anggota IEA pada 2022 menanggapi invasi Rusia ke Ukraina hanya berjumlah 182,7 juta barel. Keputusan masa kini menunjukkan keseriusan situasi yang dihadapi.
Sejumlah negara, seperti Jepang, juga telah bersiap menggunakan cadangan nasional mereka. Tujuannya untuk menanggulangi tingkat ketergantungan yang tinggi pada pasokan energi dari Timur Tengah. Koordinasi antar negara anggota IEA dilakukan untuk meredakan potensi gangguan pasar lebih lanjut.
Meski konflik yang meluas di Timur Tengah menempatkan pasar energi dalam situasi genting, tindakan IEA menunjukkan upaya serius untuk stabilisasi. Namun, para analis memperingatkan bahwa pelepasan ini sendiri mungkin tidak cukup untuk mengimbangi gangguan pasokan yang berlanjut.
IEA yang dibentuk sebagai respons terhadap krisis minyak 1973 ini, kini menjalani salah satu ujian terbesarnya. Masyarakat internasional diharapkan terus memantau perkembangan situasi ini untuk meredam ancaman krisis lebih lanjut.
Referensi:
- Liputan6, IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Minyak, Ini Alasannya. Diakses 12 Maret 2026
- Kabar Bursa, IEA Kucurkan 400 Juta Barel Minyak Darurat, Dampak Perang Iran Meluas. Diakses 12 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












