Gotrade News - IHSG diproyeksi menguat ke level 6.252 hingga 6.347 pada pembukaan perdagangan 25 Mei. Indeks ditutup di 6.162,045 pada 21 Mei, naik 1,11% atau bertambah 67,1 poin dalam sesi sebelumnya.
Penguatan ditopang aktivitas bargain hunting investor ritel di tengah arus keluar dana asing yang masih berlanjut. Pasar juga mencermati respons Trump soal Selat Hormuz yang menjadi katalis sentimen jangka pendek.
Key Takeaways
- IHSG diproyeksi menguat ke 6.252-6.347 dengan support 6.100 dan resistance 6.400.
- Ritel domestik berjumlah 26,7 juta investor menjadi penopang utama saat asing keluar.
- Indikator RSI menunjukkan kondisi extremely oversold dengan pola bullish pin bar.
Menurut Kumparan, Mirae Asset Sekuritas melalui M. Nafan Aji Gusta menyebut IHSG berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI. Pola bullish pin bar yang terbentuk pada grafik mingguan menandakan potensi pembalikan arah dalam waktu dekat.
Sementara itu, MNC Sekuritas memberikan skenario alternatif yang lebih pesimistis terhadap pergerakan indeks. Tim analis MNC memproyeksikan kemungkinan pelemahan lanjutan menuju area support 5.899 bila tekanan jual berlanjut.
Pelemahan rupiah turut menjadi perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda melemah 0,28% ke posisi Rp 17.717 per dolar AS meskipun Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin.
Ritel Topang Pasar Saat Asing Keluar
Dilansir Kompas, total investor ritel domestik kini mencapai 26,7 juta dengan komposisi sekitar 50% berasal dari kalangan investor muda. Basis investor yang besar ini menjadi penyangga likuiditas saat dana asing mengalir keluar dari pasar saham.
Zona support 6.000 hingga 6.100 dinilai cukup kuat secara psikologis dengan aktivitas bargain hunting yang aktif. Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menyebut indeks saat ini masih dalam fase bottoming process belum konfirmasi bull market.
Hendra juga mengingatkan risiko perilaku FOMO yang kerap muncul pada periode rebound jangka pendek. Ia menyatakan sebagian besar investor ritel masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek di pasar.
Saham-saham berkapitalisasi besar mulai memasuki teritori undervalued setelah koreksi tajam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuka peluang akumulasi selektif pada emiten berkualitas dengan fundamental kuat dan arus kas stabil.
Bagi investor yang ingin eksposur ke pasar Indonesia melalui instrumen luar negeri, ETF seperti iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) menjadi pilihan diversifikasi. Instrumen ini memberikan akses pada keranjang saham unggulan Indonesia yang diperdagangkan di bursa AS.
Level Kunci Dan Faktor Pemberat
Melansir Bloomberg Technoz, BRI Danareksa Sekuritas melalui Reza Diofanda memproyeksikan indeks bergerak terbatas pada perdagangan pekan ini. Reza menempatkan support terdekat di level 6.100 dengan resistance di area 6.400.
Phintraco Sekuritas menyoroti pelaku pasar yang memantau MSCI rebalancing pada akhir bulan ini. Pekan perdagangan yang diperpendek menambah ketidakpastian implementasi kebijakan dan arus dana institusional di pasar.
Korelasi dengan pasar global juga menjadi pertimbangan, terutama pergerakan indeks acuan seperti S&P 500 ETF (SPY). Volatilitas pasar AS kerap menjadi referensi sentimen risiko yang merembet ke pasar emerging termasuk Indonesia.
Pelaku pasar juga mencermati pergerakan instrumen safe-haven seperti 20 Yr Treasury ETF (TLT) di tengah ketidakpastian geopolitik. Pergeseran imbal hasil obligasi AS berdampak pada arus modal global menuju aset berisiko di emerging markets.
Mirae Asset merekomendasikan saham AKRA, BBTN, dan INCO sebagai pilihan akumulasi pada sesi perdagangan pekan ini. MNC Sekuritas menambahkan ASII, HRUM, ISAT, dan PSAB pada daftar saham pilihan untuk strategi trading jangka pendek.












