Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 7.072,39 pada Selasa (28/04), turun 34,13 poin atau 0,48%. Pelemahan terjadi seiring koreksi serempak bursa regional Asia dan tekanan pada mayoritas sektor saham domestik.
--- - Bursa regional kompak melemah, Nikkei -1,02% dan Hang Seng -0,95% jadi penekan utama. - Crossing jumbo terjadi di BSDE, BMRI, BBCA, dan TLKM senilai total Rp2,5 triliun. - BBRI bergerak naik 0,66% melawan arus, ditopang valuasi murah dan pertumbuhan kredit. ---
Indeks LQ45 ikut tertekan dengan penurunan 0,64% ke 682,32 pada perdagangan Selasa. Total nilai transaksi mencapai Rp17,01 triliun dengan volume 31,49 miliar saham.
Delapan dari sebelas sektor saham mengalami koreksi pada perdagangan kemarin. Sektor barang konsumen non-siklikal turun 1,49% dan menjadi pemberat utama indeks.
Saham yang menguat tercatat 339, sementara 350 saham melemah dan 129 stagnan. Frekuensi transaksi mencapai 2,14 juta kali sepanjang sesi.
Crossing besar terjadi di sejumlah saham blue-chip pada perdagangan kemarin. BSDE mencatat crossing senilai Rp1,51 triliun di harga Rp880 per saham.
BMRI ikut crossing senilai Rp283,31 miliar dan BBCA senilai Rp272,43 miliar. TLKM juga mencatat crossing senilai Rp102,78 miliar pada harga Rp2.792.
Di tengah koreksi indeks, BBRI bergerak naik 0,66% ke Rp3.070 per saham. OCBC Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga Rp5.000.
Analis OCBC menilai valuasi BBRI relatif murah dengan pertumbuhan kredit yang masih kuat. Kualitas aset yang membaik dan permodalan solid juga menjadi katalis positif.
Bursa regional Asia kompak melemah pada perdagangan kemarin dan menekan sentimen domestik. Nikkei 225 turun 1,02% dan Hang Seng melemah 0,95% memimpin pelemahan kawasan.
Secara mingguan IHSG tercatat longsor 6,4% dalam tujuh hari perdagangan beruntun. Sejak awal tahun, IHSG sudah terkoreksi 18,21% dan menambah tekanan pada kapitalisasi pasar.
Pelaku pasar akan mencermati arah suku bunga The Fed dan rilis data ekonomi domestik. Sentimen regional dan aliran dana asing tetap menjadi penentu pergerakan IHSG ke depan.












