Jakarta, Gotrade News - Data terbaru dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi tahunan Amerika Serikat bertahan di level 2,7 persen pada Desember 2025. Angka ini tidak berubah dari bulan sebelumnya, namun menunjukkan progres dibandingkan awal tahun 2025 yang sempat menyentuh angka 3 persen.
Key Takeaways:
-
Inflasi tahunan AS Desember 2025 tertahan di level 2,7%, sementara inflasi inti melandai ke 2,6%.
-
Fokus kebijakan moneter kini mulai bergeser dari sekadar menekan harga ke upaya menjaga stabilitas pasar tenaga kerja.
-
Pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari ini di tengah tekanan politik untuk pemangkasan.
Laporan ini menjadi krusial karena mengonfirmasi bahwa tekanan harga mulai terkendali meskipun masih di atas target ideal 2 persen. Kondisi ini memberikan ruang bagi bank sentral AS, Federal Reserve, untuk lebih memperhatikan risiko perlambatan di pasar tenaga kerja yang mulai terlihat mendingin.
Menurut laporan dari CNBC, inflasi inti yang tidak menghitung sektor makanan dan energi naik 2,6 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar dan menyamai level terendah dalam empat tahun terakhir.
Penurunan inflasi inti ini menjadi indikator kuat bagi para pembuat kebijakan bahwa risiko lonjakan harga mulai berkurang. Strategis makro dari Carson Group, Sonu Varghese, menyatakan bahwa data yang lebih lunak ini memungkinkan The Fed untuk tetap fokus pada risiko pengangguran yang kini berada di level 4,4 persen.
Meski secara tahunan melandai, inflasi bulanan Desember justru naik 0,3 persen yang didorong oleh kenaikan biaya perumahan dan makanan. Komponen biaya tempat tinggal (shelter) melonjak 0,4 persen dan menjadi kontributor terbesar dalam kenaikan indeks bulan lalu.
Sektor energi juga mencatatkan kenaikan 0,3 persen, sementara harga makanan melonjak cukup signifikan sebesar 0,7 persen. Di sisi lain, harga kendaraan bekas dan layanan komunikasi justru mengalami penurunan, yang memberikan efek penyeimbang pada indeks keseluruhan.
Kondisi inflasi yang stabil ini memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump yang kembali mendesak Jerome Powell untuk memangkas suku bunga secara signifikan. Melalui media sosial, Trump berargumen bahwa tingkat bunga saat ini menghambat pertumbuhan ekonomi AS.
Namun, para pejabat The Fed tampaknya akan tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut di awal tahun 2026. Menurut data dari CME Group, para pelaku pasar bertaruh bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen pada pertemuan akhir bulan ini.
Ekonom dari EY-Parthenon, Gregory Daco, memperingatkan adanya potensi kenaikan harga barang pada kuartal pertama tahun ini karena dampak tarif impor. Banyak perusahaan kemungkinan akan mulai meneruskan beban biaya yang selama ini mereka tanggung kepada konsumen.
Sentimen pasar saham menunjukkan penguatan tipis segera setelah data ini dirilis, mencerminkan optimisme investor bahwa inflasi tidak sedang berakselerasi kembali. Hal ini menjadi sinyal penting bagi aset berisiko termasuk saham teknologi seperti Apple Inc. dan Microsoft Corporation.
Investor di Indonesia juga perlu memantau pergerakan ini melalui instrumen yang melacak pasar AS seperti Vanguard Total Stock Market ETF. Stabilnya ekonomi AS biasanya memberikan kepastian arah kebijakan yang juga berdampak pada arus modal ke pasar negara berkembang.
Dampak jangka panjang dari kebijakan tarif dan imigrasi diperkirakan akan menjadi faktor penentu inflasi di sepanjang tahun 2026. Chief Investment Officer Comerica Wealth Management, Eric Teal, memproyeksikan inflasi akan tetap berada di kisaran 2,2 hingga 2,7 persen tahun ini.
The Fed kini berada dalam posisi yang dilematis antara menjaga target inflasi dan mencegah lonjakan angka pengangguran. Keputusan Januari ini akan menjadi fondasi penting bagi arah pasar keuangan global di semester pertama tahun 2026.
Referensi:
-
CFO Dive, Inflation holds steady, affirming Fed focus on weak job market. Diakses pada 14 Januari 2026
-
CNN, Inflation remained at 2.7% in December, as high prices continue to weigh on many Americans. Diakses pada 14 Januari 2026
-
CNBC, December core consumer prices rose at a 2.6% annual rate, less than expected. Diakses pada 14 Januari 2026
-
Featured Image: Shutterstock











