Gotrade News - Inflasi tahunan Amerika Serikat melonjak ke 3,8 persen pada April 2026, level tertinggi sejak Mei 2023. Angka ini melampaui konsensus Dow Jones dan menandai akselerasi tajam dari bulan sebelumnya.
Pemicu utama adalah lonjakan harga energi imbas perang Iran yang mengerek harga BBM dan pangan. Pasar bereaksi negatif, dengan imbal hasil Treasury naik dan futures bursa Asia bersiap melemah.
Key Takeaways:
- CPI AS naik 3,8 persen YoY pada April 2026, rekor sejak Mei 2023.
- Harga bensin melonjak 28,4 persen YoY menjadi kontributor terbesar inflasi.
- Pasar saham AS tertekan, taruhan kenaikan suku bunga Fed 2027 meningkat.
Pemicu Lonjakan Inflasi
Menurut Kompas, indeks harga konsumen AS naik 0,6 persen secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman. Angka tahunan 3,8 persen jauh di atas target inflasi 2 persen Federal Reserve.
Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat 2,8 persen YoY. Secara bulanan, core CPI naik 0,4 persen, menandakan tekanan harga yang menyebar di luar sektor energi.
Harga energi melonjak 3,8 persen secara bulanan dan menyumbang lebih dari 40 persen kenaikan inflasi total. Secara tahunan, sektor energi melonjak 17,9 persen seiring memburuknya pasokan global.
Harga bensin melesat 28,4 persen YoY menjadi pendorong utama angka headline. Harga pangan di rumah naik 0,7 persen bulanan, kenaikan terbesar sejak Agustus 2022.
Dilansir dari Sindonews, lonjakan harga BBM dipicu meluasnya dampak konflik Iran terhadap pasokan minyak global. Sebanyak 75 persen warga AS melaporkan terkena dampak finansial langsung dari konflik tersebut.
Anggota DPR AS Brendan Boyle menyebut situasi inflasi sudah di luar kendali pemerintah. Juru bicara Gedung Putih Kush Desai menyatakan pemerintah tetap fokus menstabilkan harga energi dalam waktu dekat.
Dampak ke Pasar Saham AS
Indeks S&P 500 tergelincir dari rekor tertingginya akibat aksi jual di sektor semikonduktor. Reli saham chip yang mencapai hampir 70 persen dalam enam minggu terakhir mulai kehilangan momentum.
Investor yang ingin eksposur ke indeks acuan AS dapat memantau SPDR S&P 500 ETF (SPY). ETF ini menjadi barometer utama sentimen pasar saham AS dalam jangka pendek.
Investor teknologi sebaiknya juga mencermati Invesco QQQ Trust (QQQ). ETF ini terbobot tinggi ke saham chip yang menjadi episentrum aksi jual pekan ini.
Melansir Bloomberg Technoz, imbal hasil Treasury naik setelah data inflasi keluar lebih panas dari ekspektasi. Futures bursa Sydney dan Tokyo bersiap dibuka melemah pada perdagangan Rabu.
Pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada 2027. Pergeseran ekspektasi ini menekan valuasi saham pertumbuhan yang sensitif terhadap suku bunga.
Sektor energi justru diuntungkan oleh kenaikan harga minyak yang melonjak lebih dari 4 persen pada Selasa. Saham produsen minyak seperti Exxon Mobil (XOM) berpotensi mendapat dukungan dari lingkungan harga minyak yang tinggi.
Pelaku pasar memperkirakan tekanan inflasi belum akan mereda dalam beberapa bulan ke depan. Stabilitas harga energi global akan menjadi katalis utama yang menentukan arah CPI berikutnya.
Sumber:
- Inflasi AS Tembus 3,8 Persen, Tertinggi sejak Mei 2023 (Kompas)
- Di Luar Kendali, Inflasi AS Menggila Cetak Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun Imbas Kenaikan Harga BBM (Sindonews)
- Inflasi AS Melonjak, Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah (Bloomberg Technoz)












