Gotrade News - Sebuah kapal kontainer dilaporkan ditembak di dekat Selat Hormuz menurut Angkatan Laut Inggris pada Selasa, 22 April 2026. Insiden ini menambah eskalasi ketegangan maritim yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Key Takeaways:
- Kapal kontainer ditembak di dekat Selat Hormuz, menambah tiga serangan baru pada 18 April
- Tanker Iran mematikan sinyal AIS untuk menyelundupkan minyak melewati blokade AS
- Ratusan kapal tanker terjebak di kedua sisi selat, mengganggu 25% perdagangan minyak global
Menurut Wikipedia yang merangkum krisis Hormuz 2026, lalu lintas maritim di selat ini terhenti sejak 28 Februari. Penutupan terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran dan membunuh pemimpin tertingginya.
Tiga serangan baru terjadi pada 18 April, termasuk tembakan langsung terhadap kapal tanker VLCC Sanmar Herald. Menurut NBC News, dua kapal berbendera India menjadi sasaran dan dipaksa berbalik meskipun sudah mendapat izin lewat.
Kapal gunboat Iran menembaki Sanmar Herald dari jarak dekat, mempertegas risiko kinetik di jalur perdagangan kritis ini. Menurut Military.com, Iran memberlakukan kembali kontrol ketat terhadap seluruh lalu lintas di Selat Hormuz.
Ratusan kapal tanker komersial terjebak di kedua sisi Selat Hormuz setelah Iran menutup jalur kritis tersebut. Menurut Fox News, penutupan ini menjebak ribuan awak kapal di tengah laporan penembakan yang terus berlanjut.
Dampak Energi Global
Selat Hormuz menangani sekitar 25% perdagangan minyak laut dan 20% LNG global sebelum konflik pecah. Penutupan selat memicu guncangan harga energi yang memaksa Thailand merombak anggaran belanjanya.
Tanker Iran dilaporkan mematikan sinyal AIS untuk menyelundupkan minyak mentah melewati blokade AS. Strategi "going dark" ini menunjukkan upaya Teheran mempertahankan pendapatan minyak di tengah tekanan ekonomi.
Saham energi global seperti Exxon Mobil (XOM) dan Occidental Petroleum (OXY) tetap diperhatikan investor. Harga WTI turun 0,87% karena perpanjangan gencatan senjata, namun risiko gangguan pasokan tetap tinggi.
Investor perlu mewaspadai eskalasi lebih lanjut yang dapat mendorong lonjakan harga minyak secara tiba-tiba. Selama Selat Hormuz belum kembali normal, volatilitas di sektor energi akan tetap tinggi.












