Gotrade News - Harga emas dan perak baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah gejolak pasar global yang semakin intens. Kenaikan drastis ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan respons langsung terhadap tiga faktor fundamental yang mengguncang kepercayaan investor.
Laporan The Guardian pada Kamis (29/01) mencatat emas sempat menyentuh $5.595 per ons, sementara perak melonjak empat kali lipat ke level $118. Lonjakan harga ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi di bawah kebijakan baru Amerika Serikat.
Key Takeaways:
-
Ketidakpastian kebijakan The Fed dan tekanan politik memicu keraguan terhadap nilai mata uang Dolar AS.
-
Ketegangan geopolitik dan ancaman tarif dagang agresif mempercepat pelarian modal ke aset safe haven.
-
Aksi beli investor ritel yang masif kini menjadi pendorong utama harga, menggantikan dominasi bank sentral.
Krisis Kepercayaan Institusi
Analis Capital.com Daniela Hathorn menyebut fenomena ini sebagai "penentuan ulang harga kepercayaan" terhadap mata uang fiat dan institusi negara. Kebijakan agresif pemerintah AS yang terus menekan independensi bank sentral dinilai merusak kredibilitas sistem keuangan.
Serangan verbal Presiden Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell dianggap berisiko memicu inflasi yang tidak terkendali di masa depan. Investor kini memilih emas sebagai lindung nilai karena khawatir nilai Dolar akan terus tergerus alias mengalami debasement.
Ketegangan Geopolitik Memanas
Kebijakan luar negeri yang konfrontatif, termasuk ancaman aneksasi wilayah dan tarif dagang, menciptakan ketidakpastian global yang serius. Emas secara historis selalu menjadi aset pelarian utama saat risiko perang atau konflik antarnegara meningkat tajam.
Giuseppe Sersale dari Anthilia menggambarkan pergerakan pasar saat ini sudah memiliki ciri "mania" dengan grafik harga yang melesat vertikal. Ketakutan akan eskalasi konflik di Iran turut mempercepat aliran dana keluar dari aset berisiko.
Dominasi Investor Ritel
Berbeda dengan tahun sebelumnya, data World Gold Council menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral justru turun 21 persen. Kenaikan harga kali ini lebih banyak didorong oleh investor ritel yang panik melihat berita utama yang mencemaskan.
Louise Street dari WGC mencatat bahwa konsumen berlomba mengamankan kekayaan mereka di segala jalur investasi yang tersedia. Perak, dengan harga yang lebih terjangkau, menjadi sasaran spekulasi ritel yang paling agresif dalam beberapa pekan terakhir.
Meskipun harga emas terbang tinggi, pasar saham AS uniknya tetap bertahan positif berkat performa sektor teknologi. Indeks S&P 500 masih mencatatkan kenaikan 17,9 persen pada 2025, menunjukkan adanya divergensi perilaku antar kelas aset.
Ingin memanfaatkan momentum kenaikan harga emas tanpa perlu menyimpan logam mulia fisik yang berisiko? VanEck Gold Miners ETF (GDX) memberikanmu akses langsung ke portofolio perusahaan tambang emas terbesar di dunia dalam satu transaksi. Dengan Gotrade, kamu bisa mulai investasi aset global ini mulai dari $1 saja secara aman dan diawasi OJK.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
The Guardian, What is behind the extraordinary rise in investment into silver and gold?. Diakses pada 30 Januari 2026
-
Featured Image: Shutterstock











