Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak signifikan pada Rabu, seiring ketegangan antara Iran dan Israel yang meningkat. Lonjakan ini dipicu serangan Israel ke fasilitas gas Iran di Provinsi Bushehr.
Minyak Brent naik 3,83% ke USD 107,38 per barel, sementara minyak AS berada di USD 96,32 per barel. Ketegangan ini mengancam stabilitas pasokan energi di Timur Tengah.
Iran mengancam menyerang fasilitas energi di Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Ketegangan ini dapat memperburuk potensi gangguan pasokan minyak global.
Peringatan Iran meliputi fasilitas penting seperti kilang Samref dan kompleks petrokimia di Al-Jubail. Pasukan Garda Revolusi Iran memberi peringatan evakuasi di kawasan tersebut.
Menurut Citi, jika ketegangan meluas, harga minyak Brent bisa mencapai USD 120 per barel. Pengurangan lalu lintas tanker di Selat Hormuz menambah kekhawatiran akan pasokan.
Sementara itu, harga minyak Brent terakhir tercatat naik ke USD 111,07 per barel. Minyak WTI juga turut menguat dengan selisih harga yang melebar terjauh dalam 11 tahun.
Di Qatar, serangan ke Ras Laffan menimbulkan kerusakan besar. UEA menghentikan operasi energi di Habshan dan Bab akibat insiden yang terjadi.
Pemerintah AS tengah mempertimbangkan pengiriman tambahan pasukan ke Timur Tengah. Langkah ini bertujuan mengamankan jalur minyak di Selat Hormuz dari gangguan lebih lanjut.
Ketegangan ini diprediksi akan menjaga harga minyak tetap tinggi. Implikasi terhadap inflasi global dan ekonomi AS menjadi perhatian, meski dampak jangka panjang masih belum jelas.
Referensi:
- Liputan6, Harga Minyak Tembus USD 107, Ancaman Iran ke Arab Saudi hingga Qatar Picu Lonjakan. Diakses 19 Maret 2026
- Berita Satu, Iran Serang Fasilitas Energi, Harga Minyak 19 Maret Naik 3 Persen. Diakses 19 Maret 2026
- Berita Satu, Lonjakan Minyak Dunia Dorong Percepatan Implementasi B50 di RI. Diakses 19 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












