Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak signifikan pada Senin (30/3/2026), dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Kelompok Houthi Yaman menyerang Israel, memperluas ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Implikasi dari serangan ini memicu kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan pasokan energi global.
Pada sesi awal perdagangan Asia, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka Mei naik 2,92% menjadi USD 115,86 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI AS naik 3,2% menjadi USD 102,80 per barel. Ketegangan di wilayah tersebut menyoroti risiko berkelanjutan bagi keberlanjutan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Lonjakan harga minyak kali ini merupakan yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, mencatat meningkatnya risiko konflik berkepanjangan dapat membuat pasar lebih volatil. Ia memperingatkan bahwa blokade di Selat Hormuz dapat memperburuk penurunan pasar energi.
Konflik ini bermula dari serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026, yang kini meluas ke berbagai wilayah strategis seperti Laut Merah. Analis JPMorgan, Natasha Kaneva, menyoroti aktivitas terbaru di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur penting dunia untuk distribusi minyak mentah.
Data dari Kpler menyebutkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi sudah dialihkan ke pelabuhan di Laut Merah karena konflik ini. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan bahwa upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik terus dilakukan, meskipun Iran siap merespons bila ada serangan darat.
Harga minyak Brent sebelumnya mencatat kenaikan bulanan tertinggi mencapai 59%, menunjukkan sensitivitas pasar terhadap gejolak politik Timur Tengah. Lonjakan harga beberapa waktu terakhir mengingatkan kembali pada kondisi pasca Perang Teluk 1990.
Dalam tiga pekan terakhir, harga minyak terus merangkak naik akibat ketidakstabilan di Timur Tengah. Meskipun ada upaya diplomatik, ketegangan yang meningkat cepat dapat berdampak signifikan pada pasar global, terutama jika konflik merusak jalur penting seperti Selat Hormuz.
Kondisi ini menjadi perhatian besar bagi investor karena setiap gangguan pasokan dapat mendorong harga energi lebih tinggi, berpotensi menambah tekanan inflasi global. Situasi ini menyerukan perhatian terhadap stabilitas pasokan dan keamanan energi.
Referensi:
- Liputan6, Harga Minyak Melonjak 3% Imbas Ketegangan Perang Iran Meningkat. Diakses 30 Maret 2026
- MetroTV, Harga Minyak Dunia Lompat 2,2%, Brent Tembus USD115/Barel. Diakses 30 Maret 2026
- Berita Satu, Naik Lebih dari 2 Persen, Harga Minyak Hari Ini Sentuh US$ 115. Diakses 30 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












