Gotrade News - Ketegangan Timur Tengah kembali menekan pengiriman minyak global lewat Selat Hormuz dan menggoyang sentimen pasar Asia pada Senin (4/5). Investor mencermati langkah AS yang meluncurkan operasi militer baru untuk mengamankan jalur pelayaran komersial di kawasan Teluk.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,6%, sementara KOSPI Korea Selatan melonjak 2,6% setelah libur panjang. Harga minyak Brent stabil di $108,30 per barel meski sempat turun lebih dari 2% di awal sesi.
Key Takeaways
- AS meluncurkan Project Freedom untuk mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz mulai Senin (4/5).
- Harga minyak Brent bertahan di $108,30 per barel, mendukung sentimen saham energi seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX).
- National Australia Bank memperingatkan risiko kualitas aset akibat konflik Timur Tengah, laba semester I meleset dari estimasi.
Presiden Donald Trump mengumumkan operasi bertajuk Project Freedom untuk memandu kapal asing melintasi Selat Hormuz. Komando Pusat AS mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, dan 15.000 personel militer.
Trump memperingatkan akan menggunakan kekuatan militer jika Iran mencoba mengganggu operasi tersebut. Iran sebelumnya mengajukan proposal 14 poin, namun Trump menilai usulan itu sulit diterima oleh Washington.
Pasar Energi dan Saham Terkait
Selat Hormuz menyalurkan lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global pada 2024. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi mendorong harga minyak naik tajam dan menekan sektor manufaktur Asia yang bergantung pada impor energi.
Saham emiten energi besar seperti SPDR Energy ETF (XLE) menjadi sorotan pelaku pasar. ETF berbasis minyak seperti United States Oil Fund (USO) juga menjadi instrumen lindung nilai favorit ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Goldman Sachs menilai panduan korporasi dan estimasi analis tetap kuat pada kuartal ini. Mereka mencatat pertumbuhan EPS S&P 500 mencapai 25%, atau 16% jika mengecualikan keuntungan satu kali.
Sinyal Risiko dari Australia
National Australia Bank melaporkan laba kas semester I sebesar A$2,64 miliar, di bawah estimasi A$2,93 miliar. Manajemen menyebut konflik Timur Tengah sebagai sumber risiko utama bagi kualitas aset bank ke depan.
Bank mencatat biaya impairment kredit sebesar A$706 juta dan perubahan kebijakan kapitalisasi software senilai A$1,35 miliar pre-tax. Margin bunga bersih naik tipis 3 basis poin menjadi 1,81%.
Pasar berjangka AS bergerak datar menjelang pembukaan, dengan futures S&P 500 dan Nasdaq nyaris tidak berubah. Lebih dari 100 laporan kinerja diperkirakan rilis pekan ini, termasuk AMD, Palantir, Disney, dan McDonald's.
Imbal hasil obligasi AS dan dolar relatif stabil, sementara emas terkoreksi tipis 0,2% ke $4.603 per ons. Pelaku pasar menanti data tenaga kerja AS yang dijadwalkan rilis Jumat dengan estimasi penambahan 60.000 lapangan kerja.
Kamu yang memantau saham energi perlu mencermati perkembangan operasi Project Freedom dalam beberapa hari ke depan. Eskalasi di Selat Hormuz berpotensi mengangkat harga minyak melewati level psikologis $110 per barel dengan cepat.
Sources
Investing.com, Stocks edge up in Asia, oil flat amid Middle East uncertainty, 2026.
Investing.com, National Australia Bank posts first-half profit miss, warns of Middle East conflict risks, 2026.
Axios, Trump says U.S. Navy will escort ships out of the Strait of Hormuz from Monday, 2026.












