Gotrade News - Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan mencapai 11% dalam sepekan terakhir. Penurunan ini terjadi di tengah memanasnya konflik di Iran yang mempengaruhi arus minyak global dan menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Pelemahan emas ini terjadi seiring perubahan ekspektasi suku bunga dan penguatan dollar AS. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk memperkirakan The Fed akan tetap menahan suku bunga sepanjang tahun ini.
Bank sentral AS, The Fed, telah menahan suku bunga dalam dua pertemuan terakhir. Hal ini membuat instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi lebih diminati dan berdampak negatif bagi minat terhadap emas.
Eskalasi di Iran telah menguatkan dollar AS hampir 2% sejak awal konflik, menambah tekanan harga emas. Emas menjadi lebih mahal bagi investor global ketika dollar menguat, sehingga menurunkan daya tariknya dibandingkan aset lain.
Harga emas Antam di Indonesia sendiri terpantau stabil di Rp 2,89 juta per gram. Harga buyback juga relatif stabil di Rp 2,61 juta per gram, meskipun ada ketidakpastian di pasar global.
Pembelian dan penjualan emas di Indonesia tetap dikenakan pajak berdasarkan ketentuan pemerintah. Pembeli yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dikenakan pajak 0,45%, sementara yang tidak memiliki NPWP dikenakan pajak 0,9%.
Meskipun demikian, konflik Iran memicu ketidakpastian lebih lanjut yang bisa mempengaruhi harga emas ke depan. Investor disarankan untuk berhati-hati dalam menentukan portofolio investasi mereka.
Referensi:
- Kompas, Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen Sepekan, Kehilangan Daya Tarik?. Diakses 23 Maret 2026
- Kompas, Harga Emas Dunia Anjlok, Bagaimana Harga Logam Mulia Domestik Pekan Ini?. Diakses 23 Maret 2026
- MetroTV, Harga Emas Antam Turun di Bawah Rp3 Juta Saatnya Berburu Logam Mulia. Diakses 23 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5













