Gotrade News - Harga minyak dunia melonjak ke USD116 per barel di tengah ketegangan AS-Iran. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap krisis energi global yang semakin nyata.
Investor khawatir akan dampak lonjakan harga minyak ini terhadap ekonomi global. Konflik di Selat Hormuz, jalur penting dengan 20% pasokan minyak dan LNG dunia, mengancam lebih lanjut pasokan energi.
Bursa Asia merespons negatif, dengan indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 4%. Hal ini menandakan ketakutan akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Iran dan AS terlibat dalam ketegangan setelah tuduhan persiapan invasi oleh AS. Iran menolak proposal damai dimediasi Pakistan, yang bisa memperburuk situasi energi internasional.
Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi krisis ini dengan budidaya biofuel dari hasil pertanian. Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa biofuel E20 akan dikembangkan dari jagung, ubi, dan tebu. Inisiatif ini jadi bagian hilirisasi pertanian domestik.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat hilirisasi. Komoditas pertanian yang luas di Indonesia dinilai memiliki potensi besar menyokong langkah ini.
Reaksi positif terhadap inisiatif biofuel ini bisa menenangkan pasar domestik. Di tengah krisis energi global, mengurangi ketergantungan pada minyak jadi langkah strategis.
Dengan perkembangan ini, investor dan pembaca harus mewaspadai potensi dampak lebih jauh. Ketidakpastian pasar energi menuntut perhatian lebih pada keputusan investasi ke depan.
Referensi:
- MetroTV, Dukung Stabilitas Rupiah, BI Tetapkan SVBI-SUVBI Jadi 'Underlying' Transaksi Repo Valas. Diakses 30 Maret 2026
- infobanknews, Harga Minyak Tembus USD116, Alarm Krisis Energi Global Kian Nyaring. Diakses 30 Maret 2026
- MetroTV, Lonjakan harga minyak BBM di kawasan ASEAN naik signifikan. Diakses 30 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












