Gotrade News - Krisis pasokan migas global meluas hingga LNG dan minyak mentah pada April 2026. Bos Shell Wael Sawan menilai kekurangan ini bisa berlanjut sampai 2027.
Key Takeaways
- Bank Dunia membuka skenario harga minyak USD 95-115 per barel jika gangguan Timur Tengah lebih lama.
- Sekitar 900 juta barel minyak tidak diproduksi dan ditambal dari stok cadangan global.
- Impor LNG China April diperkirakan turun ke 3,5 juta ton, terendah sejak April 2018.
Sawan menyebut sekitar 900 juta barel tidak diproduksi dalam beberapa bulan terakhir, lalu digantikan dari stok cadangan. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara di Bloomberg TV.
Bank Dunia memproyeksikan Brent rata-rata USD 86 per barel sepanjang 2026 dalam skenario dasar. Asumsinya, gangguan pasokan paling parah berakhir Mei 2026.
Skenario risiko menempatkan harga di kisaran USD 95-115 per barel jika gangguan Timur Tengah lebih lama. Brent sempat melonjak dari USD 72 ke USD 118 per barel akhir Maret.
Pasokan minyak global pada Maret 2026 turun sekitar 10 juta barel per hari, salah satu shock terbesar dalam catatan. Indeks energi global diproyeksi naik 24% tahun ini.
Tekanan pasokan juga merembet ke pasar LNG Asia setelah harga spot melonjak akibat konflik Timur Tengah. Impor LNG China April 2026 diperkirakan hanya 3,5 juta ton.
Angka itu turun 30% dibanding tahun lalu dan menjadi level bulanan terendah sejak April 2018. Harga LNG spot Asia kini sekitar 70% lebih tinggi dari level pra-perang.
China tidak melakukan re-ekspor kargo LNG sepanjang April, kontras dengan Maret saat re-ekspor mencapai rekor 700 ribu ton. Data tersebut dihimpun dari pelacakan kapal Kpler dan Bloomberg.
Gambaran ini menggarisbawahi sensitivitas pasar energi terhadap eskalasi konflik di Selat Hormuz. Konsumen industri dan investor energi akan mencermati timeline normalisasi pasokan ke depan.












