Laba Astra (ASII) Turun 12% hingga Kuartal III-2026

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

Laba Astra (ASII) Turun 12% hingga Kuartal III-2026

Ringkasan

  • Laba bersih Astra International (ASII) hingga September 2026 turun 12% menjadi Rp21,6 triliun, sementara laba sebelum pos non-recurring items stabil di Rp24,6 triliun.
  • Penurunan dipicu pos non-recurring items Rp3,0 triliun dan laba segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat yang turun 28%, sedangkan laba segmen otomotif naik 8%.
  • United Tractors (UNTR) membagikan dividen interim Rp430 per saham, dan laba Dharma Polimetal (DRMA) naik 14,2% menjadi Rp479,5 miliar.

Gotrade News - PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih Rp21,6 triliun hingga September 2026, turun 12% secara tahunan akibat pos non-recurring items Rp3,0 triliun, seperti dilaporkan Stockwatch. Anak usahanya, United Tractors (UNTR), membagikan dividen interim Rp430 per saham, sementara laba Dharma Polimetal (DRMA) naik 14,2%.

Menurut Katadata, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Astra tercatat Rp21,60 triliun, turun dari Rp24,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih nyaris tidak bergerak di Rp243,9 triliun, dibandingkan Rp243,6 triliun setahun sebelumnya. Menjelang usia ke-70, Astra juga mempersempit bisnis intinya menjadi tiga segmen: otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.

Bagaimana Hasil Kuartal III ASII?

Hingga kuartal III-2026, pendapatan Astra stabil, tetapi beban usaha meningkat. Tabel berikut merangkum pos utama laporan laba rugi Astra untuk Januari-September 2026 dan 2025, berdasarkan data yang dilaporkan Katadata.

Baca juga: ServiceNow Rilis Kinerja Kuartal III 2026, Pendapatan Tumbuh 20,5%
Pos (Januari-September)20262025
Pendapatan bersihRp243,9 triliunRp243,6 triliun
Beban pokok pendapatanRp191,86 triliunRp191,36 triliun
Laba kotorRp52 triliunRp52,28 triliun
Beban penjualanRp10,41 triliunRp8,50 triliun
Beban umum dan administrasiRp16,94 triliunRp15,36 triliun
Laba bersih atribusi entitas indukRp21,60 triliunRp24,47 triliun

Kenapa Laba ASII Turun 12%?

Penurunan laba terutama berasal dari pos non-recurring items. Menurut Stockwatch, Astra mencatat pos non-recurring items sebesar Rp3,0 triliun, terutama dari penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan pos tersebut, laba bersih Astra stabil di level Rp24,6 triliun.

Presiden Direktur Astra International Rudy mengatakan pertumbuhan sebagian besar bisnis Grup tertahan oleh kondisi menantang pada segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat. "Bisnis otomotif menjadi salah satu penopang utama kinerja Astra," ujarnya dalam keterangan resmi, seperti dikutip Stockwatch.

Laba Otomotif ASII Naik 8%, Tambang Turun 28%

Kinerja per segmen bergerak ke arah yang berbeda. Tabel berikut memuat laba bersih per segmen sebelum pos non-recurring items untuk Januari-September 2026, berdasarkan data yang dilaporkan Stockwatch.

Baca juga: Fortinet Rilis Laba Kuartal III 2026, Pendapatan $2,08 Miliar
SegmenLaba bersihPerubahan tahunan
OtomotifRp9,8 triliunNaik 8%
Jasa KeuanganRp7,2 triliunNaik 6%
Solusi Pertambangan dan Alat BeratRp5,1 triliunTurun 28%
Lain-lainRp2,6 triliunNaik 36%

Di segmen otomotif, penjualan mobil nasional meningkat 21% menjadi 679.000 unit selama Januari-September 2026, sementara penjualan mobil Astra tumbuh 13%, menurut Stockwatch. Mobil Toyota, merek milik Toyota Motor (TM), dan Daihatsu tetap memimpin pasar dengan pangsa pasar Astra secara keseluruhan sebesar 49%. Penjualan sepeda motor Honda naik 3% dengan pangsa pasar stabil di 77%.

Data Pasar TM

KodeHarga penutupanPerubahan harian
TM$194,85-0,87%

Data penutupan sesi reguler 28 Oktober 2026 waktu New York. Harga dan perubahan: Yahoo Finance, dicek silang dengan harga penutupan di Nasdaq.com.

Sebaliknya, laba segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat turun 28% menjadi Rp5,1 triliun sebelum pos non-recurring items, dan segmen ini juga membukukan pos non-recurring items sebesar Rp2,2 triliun. Stockwatch mencatat penjualan alat berat Komatsu turun 17% menjadi 3.000 unit, meski segmen ini menunjukkan perbaikan pada kuartal III-2026.

UNTR Bagikan Dividen Interim Rp430 per Saham

Melansir Investortrust, United Tractors membagikan dividen interim Rp430 per saham dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp1,478 triliun. Dividen ini berasal dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada semester I-2026 sebesar Rp956,281 miliar.

Pembagian dividen disetujui direksi melalui keputusan sirkuler pada 23 September 2026 dan dewan komisaris pada 24 September 2026. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 6 Oktober, dengan pembayaran dijadwalkan pada 26 Oktober 2026. Sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 59,5%, Astra berhak atas Rp954,30 miliar dari pembagian ini, menurut Investortrust.

Laba DRMA Naik 14,2% hingga September 2026

Di sektor komponen otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp479,5 miliar hingga September 2026, naik 14,2% dari Rp419,9 miliar setahun sebelumnya. Menurut IDXChannel, penjualan bersih perseroan tumbuh 16% menjadi Rp5,1 triliun dari Rp4,4 triliun.

Segmen roda dua menyumbang sekitar 59% pendapatan dengan nilai Rp3 triliun, naik 10,4%, sedangkan segmen roda empat tumbuh 31,3% menjadi Rp1,3 triliun dan segmen lainnya naik 16,3% menjadi Rp791,7 miliar. Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso mengatakan "peningkatan penjualan dua digit tersebut terjadi pada setiap segmen bisnis DRMA". Ia menambahkan bahwa pertumbuhan permintaan industri otomotif sejak paruh pertama 2026 "telah mendorong peningkatan permintaan komponen".

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat investasi. Keputusan investasi ada di tangan kamu setelah melakukan riset mandiri.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1 juta+

Gotraders 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
Traders League IV

Total hadiah
lebih dari $4000

termasuk langganan
TradingView untuk
semua pemenang

Daftar sekarang

*Syarat dan ketentuan berlaku