Harga Minyak Turun, Pasar Timbang Diplomasi Baru AS-Iran

Ringkasan
- Harga minyak melemah pada Kamis pagi (29/10), dengan Brent turun 0,8% ke US$114,41 per barel setelah ditutup di kisaran US$115 pada sesi sebelumnya, menurut Investing.com dan Bloomberg Technoz.
- Pedagang menimbang upaya diplomatik baru untuk mencegah berlanjutnya serangan militer AS terhadap Iran, termasuk negosiasi lewat mediator yang disebut Trump kepada Axios.
- Brent masih naik 11% sepanjang Oktober menurut Bloomberg Technoz, sementara The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,75% hingga 4% dan menilai inflasi masih tinggi.
Gotrade News - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis pagi (29/10) setelah Brent ditutup di kisaran US$115 per barel pada sesi sebelumnya. Melansir Bloomberg Technoz, West Texas Intermediate (WTI) turun mendekati US$102 per barel setelah naik hampir 3% pada sesi sebelumnya, seiring pedagang menimbang upaya diplomatik baru untuk mencegah berlanjutnya serangan militer AS terhadap Iran.
Menurut Investing.com, Brent kontrak Desember turun 0,8% ke US$114,41 per barel dan WTI turun 0,8% ke US$101,99 per barel pada pukul 07.18 WIB. Harga keduanya masih bertahan di dekat level tertinggi enam bulan.
Sinyal Diplomasi AS-Iran Menekan Harga Minyak
Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya terus memberi kesempatan pada jalur diplomasi, seperti dilaporkan Bloomberg Technoz. Media yang sama mengutip laporan The Wall Street Journal bahwa Wakil Presiden AS JD Vance telah menghubungi Mohsen Rezaei, sekretaris dewan keamanan tertinggi Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios pada Rabu (28/10) bahwa negosiasi berlangsung melalui mediator, tetapi ia tidak tahu pasti apakah upaya itu akan berhasil, menurut Bloomberg Technoz. Dilansir Investing.com, mediator Qatar telah menyerahkan draf proposal baru kepada Teheran, meski seorang pejabat Iran, menurut laporan Reuters, menyebut gagasan tersebut tidak dapat diterima. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pekan ini.
Ancaman Serangan dan Kilang Saudi Menopang Harga
Meski demikian, kekhawatiran atas serangan militer AS yang baru dan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi masih menopang harga, menurut Investing.com. Trump membuka kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November, dan Washington telah meminta sekutu di kawasan bersiap menghadapi kemungkinan serangan serta balasan Iran terhadap fasilitas energi.
Kenaikan harga pada sesi sebelumnya terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi. Serangan semacam itu berpotensi membatasi ekspor minyak mentah Saudi, menurut Investing.com.
Dari sisi pasokan AS, data Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dikutip Investing.com menunjukkan stok minyak mentah komersial turun 1,9 juta barel menjadi 410,6 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berbeda dengan perkiraan analis yang memproyeksikan sedikit kenaikan. Stok bensin justru naik 3,9 juta barel, berlawanan dengan perkiraan penurunan, sementara stok distilat turun 1,5 juta barel.
Harga minyak mentah merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan perusahaan produsen minyak yang tercatat di bursa AS, seperti Exxon Mobil (XOM), Chevron (CVX), dan ConocoPhillips (COP).
| Indikator | Level | Sumber |
|---|---|---|
| Brent, penutupan sesi sebelumnya | Sekitar US$115 per barel | Bloomberg Technoz |
| Brent kontrak Desember, Kamis (29/10) pukul 07.18 WIB | US$114,41 per barel (turun 0,8%) | Investing.com |
| WTI, Kamis (29/10) pukul 07.18 WIB | US$101,99 per barel (turun 0,8%) | Investing.com |
| Kenaikan Brent sepanjang Oktober | 11% | Bloomberg Technoz |
| Stok minyak mentah komersial AS, pekan hingga 23 Oktober | 410,6 juta barel (turun 1,9 juta barel) | EIA, dikutip Investing.com |
The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75% hingga 4%
Menurut Bloomberg Technoz, kenaikan harga minyak menambah tekanan bagi konsumen dan menyulitkan bank sentral yang berupaya meredam inflasi. Brent tercatat naik 11% sepanjang bulan ini dan menyentuh level tertinggi sejak April seiring berlarutnya konflik.
Menurut pernyataan resmi Federal Reserve pada Rabu (28/10), rapat FOMC memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75% hingga 4% lewat voting 10 banding 2. Dua anggota komite, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, memilih menaikkan suku bunga 25 basis poin. Komite menilai inflasi masih tinggi dan ketidakpastian tetap tinggi, sebagian karena perkembangan geopolitik.
Meski suku bunga ditahan, pedagang memproyeksikan The Fed kembali melanjutkan pengetatan pada Desember, menurut Bloomberg Technoz.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












