Gotrade News - Lonjakan harga minyak dan gas alam kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi di pasar keuangan Amerika Serikat. Investor merespons dengan menjual obligasi dan menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Brent crude menembus level USD110 per barel dan futures gas alam AS melewati USD3 untuk pertama kalinya sejak Maret. Pergerakan ini mendorong yield Treasury 10 tahun ke 4,631 persen, level tertinggi dalam 15 bulan.
Key Takeaways
- Brent melewati USD110 per barel dan WTI menembus USD100, menekan ekspektasi inflasi global.
- Yield Treasury 10 tahun mencapai 4,631 persen dan 30 tahun ke 5,159 persen.
- Morgan Stanley memproyeksikan Fed menahan suku bunga sepanjang 2026, dengan pemangkasan baru pada 2027.
Tekanan Energi dan Sinyal Pasar Obligasi
Menurut InvestmentNews, kontrak minyak hingga Desember mencetak rekor baru dan memperpanjang sinyal disrupsi pasokan hingga paruh kedua 2026. Persediaan minyak global menurun pada kecepatan rekor dan diperkirakan mendekati 7,6 miliar barel pada akhir Mei.
Yield Treasury 2 tahun melonjak di atas 4,0 persen untuk pertama kali dalam hampir setahun. Menurut Seeking Alpha, pergerakan ini mencerminkan repricing risiko inflasi yang lebih tinggi oleh pelaku pasar obligasi.
Sementara itu, futures gas alam AS menembus USD3 per MMBtu untuk pertama kalinya sejak Maret. Laporan Bloomberg mengaitkan kenaikan tersebut dengan permintaan musim panas yang meningkat serta ekspor LNG yang kuat.
Dampak ke Fed dan Saham Energi
Tim ekonomi Morgan Stanley menggeser proyeksi pemangkasan suku bunga Fed pertama menjadi Maret dan Juni 2027. Pergeseran tersebut memperpanjang periode kebijakan moneter ketat di tengah tekanan harga energi.
Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq turun 0,5 persen pada perdagangan Senin. Saham Eropa melemah 0,4 persen dan indeks Nikkei Jepang terkoreksi 1 persen.
Jeff Currie dari Abaxx Commodity Exchange menyatakan bahwa motif geopolitik di Timur Tengah berfokus pada tekanan ekonomi, bukan harga semata. Pernyataan ini menggambarkan risiko premi geopolitik yang masih akan membebani pasar energi.
George Lagarias dari Forvis Mazars menilai pasar sedang panik karena memperhitungkan skenario disrupsi pasokan. Ketidakpastian tersebut memperkuat permintaan terhadap aset lindung nilai inflasi.
Produsen minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron berpotensi mendapat dorongan dari margin penyulingan yang lebih lebar. Kondisi ini juga menguntungkan eksplorasi seperti ConocoPhillips yang memiliki eksposur signifikan ke gas alam dan LNG.
Penjualan ritel April naik 0,5 persen secara bulanan dan melampaui ekspektasi konsensus. Data tersebut menambah argumen bahwa Fed memiliki ruang untuk menunda pelonggaran kebijakan.
Konsumsi riil pada 2026 diproyeksikan tumbuh maksimum 1,8 persen menurut Morgan Stanley. Proyeksi tersebut menggambarkan tekanan daya beli rumah tangga akibat biaya energi yang lebih tinggi.
Investor di pasar saham AS kini menimbang dua kekuatan yang berlawanan. Tekanan inflasi energi menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga, sementara saham sektor energi justru menjadi penerima manfaat utama dari reli komoditas.












