West Texas Intermediate (WTI) ditutup di USD92,13 per barel, naik 2,81% dalam satu sesi perdagangan. Brent crude mencatat kenaikan lebih tajam sebesar 3,14% ke level USD98,48 per barel.
Kenaikan harga dipicu oleh pembatalan kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan untuk negosiasi putaran kedua dengan Iran. Iran menyampaikan melalui perantara Pakistan bahwa mereka tidak akan menghadiri pertemuan di Islamabad.
Iran juga menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Angkatan Laut AS terus mencegat kapal-kapal yang masuk dan keluar perairan Iran. Jalur distribusi ini biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak mentah global.
Gangguan pasokan saat ini diperkirakan mencapai 4 juta barel per hari, menurut data analis. Angka ini berpotensi naik ke 5 juta barel atau sekitar 5% dari pasokan global, dengan Asia sebagai kawasan paling terdampak.
Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sambil mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal terkait Iran. Volatilitas pasar minyak mencapai level tertinggi sejak pandemi Covid-19 tahun 2020.
Rebecca Babin, senior energy trader di CIBC Private Wealth Group, menyatakan distribusi minyak tetap terkendala meski berita datang sangat cepat. Goldman Sachs mencatat adanya "risiko dua arah" akibat ketidakpastian global yang tinggi.
Harga minyak berpotensi terkoreksi jika terjadi de-eskalasi konflik atau pemulihan distribusi energi. Namun selama Selat Hormuz tetap tertutup, tekanan harga ke atas diperkirakan berlanjut.
Sumber: Kabar Bursa, Bloomberg Technoz, Kompas












