Gotrade News - Iran menutup kembali Selat Hormuz pada Sabtu (19/04) dan menembaki dua kapal komersial, memicu lonjakan harga minyak mentah WTI ke $90,18 per barel atau naik 7,55%. Langkah ini diambil hanya dua hari setelah Selat Hormuz dibuka kembali pada Kamis (17/04) pasca gencatan senjata 8 April lalu.
Sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, setara 20% kebutuhan minyak global. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut blokade angkatan laut AS yang masih berlangsung sebagai alasan penutupan kembali selat tersebut, dilaporkan Benzinga.
---
Key Takeaways:
- Harga minyak WTI melonjak 7,55% ke $90,18/barel setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz dan menembaki kapal komersial
- Futures Wall Street melemah: Dow -0,92%, S&P 500 -0,72%, Nasdaq -0,68%, menandakan tekanan geopolitik terhadap pasar
- Peluang The Fed menahan suku bunga di pertemuan FOMC pekan depan mencapai 99,5% karena tekanan inflasi energi
---
Komando Sentral AS merespons dengan menyita kapal berbendera Iran bernama TOUSKA yang menuju Bandar Abbas pada Minggu (20/04). Presiden Trump menyebut insiden tersebut sebagai "pelanggaran total" terhadap gencatan senjata dan mengancam akan menyerang infrastruktur Iran, menurut laporan Barchart.
Iran menolak berpartisipasi dalam pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad, menurut kantor berita negara IRNA. Pemerintahan AS tetap merencanakan putaran kedua negosiasi pada Selasa (22/04) dengan Wakil Presiden Vance, utusan Witkoff, dan Jared Kushner.
Dampak terhadap Pasar Energi dan Saham AS
Harga minyak mentah Brent turut melonjak ke $96 per barel atau naik 6,22%, sementara harga bensin RBOB naik 4,13% ke $3,13 per galon. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu, harga bensin reguler di AS sudah naik $1,16 menjadi $4,14 per galon, menurut data Motley Fool.
Saham-saham energi seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Di sisi lain, saham maskapai penerbangan yang baru saja rally pada Jumat kemungkinan tertekan oleh lonjakan biaya bahan bakar.
Futures S&P 500 turun 51,50 poin ke 7.110 dan futures Dow Jones turun 455 poin ke 49.186 pada perdagangan pra-pasar Senin (20/04). Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun naik 2 basis poin ke 4,27%, menurut data Benzinga.
Inflasi Energi dan Sikap The Fed
Prakiraan inflasi TTM untuk April naik ke 3,58%, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Angka ini melonjak 118 basis poin hanya dalam dua bulan dari 2,4% pada Februari, dilaporkan Motley Fool.
Gubernur Fed Christopher Waller menyatakan kehati-hatian terhadap pemotongan suku bunga dalam waktu dekat akibat guncangan energi. Presiden Fed San Francisco Mary Daly juga bergeser ke mode "wait and see" setelah sebelumnya memperkirakan 1-2 kali pemangkasan tahun ini, menurut Barchart.
Probabilitas The Fed menahan suku bunga di pertemuan FOMC pekan depan mencapai 99,5%. Hanya tersisa peluang 4,11% untuk pemangkasan suku bunga hingga 17 Juni, sementara peluang kenaikan justru mencapai 12,84%.
Investor yang memantau sektor energi bisa mempertimbangkan saham seperti ConocoPhillips (COP) dan ETF minyak United States Oil Fund (USO). Dinamika Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dan sentimen pasar global pekan ini.
Sumber: Benzinga, Motley Fool, Barchart












