Gotrade News - Arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia kembali jadi sorotan pemerintah pekan ini. Presiden Prabowo Subianto secara langsung mengangkat isu capital outflow dalam pertemuan tingkat kabinet.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keprihatinan Presiden setelah rapat di Istana Kepresidenan pada Selasa (05/05). Pernyataan itu menyusul tekanan jual asing yang konsisten di pasar saham dan obligasi.
Key Takeaways:
- Investor asing catat net sell Rp518,39 miliar di pasar saham Indonesia pada 5 Mei
- IHSG sudah terkoreksi 19,55% sejak awal tahun hingga awal Mei 2026
- OJK tunjuk tekanan geopolitik dan kebijakan suku bunga Fed sebagai pemicu utama outflow
"Bapak Presiden melihat terkait dengan capital outflow," kata Airlangga merujuk perhatian Prabowo pada tiga area utama. Ketiga area itu adalah pasar saham, Surat Berharga Negara, dan netralisasi instrumen SRBI.
Airlangga juga menyebut adanya kesepakatan kerja sama antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan ke depan. Kerja sama itu ditujukan untuk mengelola risiko capital outflow yang berkelanjutan.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing membukukan net sell senilai Rp518,39 miliar pada Senin (05/05). Pasar reguler mencatat net sell Rp317,94 miliar dan pasar negosiasi Rp200,44 miliar.
Aktivitas investor asing mencapai 29,25% dari total nilai transaksi harian. Total beli asing tercatat Rp4,8 triliun sementara total jual menyentuh Rp5,3 triliun.
Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan akar persoalan dalam pertemuan terpisah di Istana Negara. "Kalau teman-teman lihat terjadi (outflow) karena memang saat ini kondisi dari faktor geopolitik dan geoekonomi secara global," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Friderica menyebut kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Federal Reserve AS sebagai salah satu faktor utama. Ketidakpastian global juga membuat pasar negara berkembang tertekan secara luas.
OJK telah menerapkan sejumlah reformasi untuk meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia. Kebijakan itu mencakup transparansi data investor, keterbukaan pemegang saham di atas 1%, dan persyaratan Ultimate Beneficial Owner.
OJK juga menaikkan ambang batas free float minimum di atas 15%. Tujuannya meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar agar lebih siap menyerap tekanan jual asing.
Tekanan kumulatif pada IHSG sudah cukup berat sepanjang 2026. Indeks komposit terkoreksi sekitar 19,55% sejak awal tahun hingga awal Mei 2026.
Bagi investor ritel, kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra terhadap volatilitas jangka pendek. Strategi diversifikasi lintas kelas aset menjadi semakin relevan saat tekanan eksternal masih tinggi.
Pemerintah dan otoritas pasar tampak satu suara dalam memberi sinyal kesiapan menjaga stabilitas. Pelaku pasar kini menunggu kebijakan konkret dari koordinasi BI-Kemenkeu yang dijanjikan Airlangga.












