Gotrade News - Negosiasi damai AS-Iran kembali menemui jalan buntu pada akhir pekan lalu. Trump membatalkan kunjungan utusannya ke Pakistan, memicu lonjakan harga minyak dunia.
Brent menguat 2,3% ke US$ 107,73 per barel sementara WTI bergerak di sekitar US$ 96, mengutip Bloomberg Technoz. Wall Street menutup Jumat (24/04) dengan hasil variatif di tengah tensi geopolitik.
Key Takeaways:
- Brent tembus US$ 107,73 dan WTI di kisaran US$ 96 imbas mandeknya diplomasi.
- S&P 500 naik 0,80%, Nasdaq menguat 1,63%, Dow turun 0,16% pada Jumat.
- Selat Hormuz masih tertutup, mengganggu seperlima pasokan minyak global.
Iran kembali menegaskan tidak akan bernegosiasi selama berada di bawah ancaman militer, mengutip Bloomberg Technoz. Garda Revolusi Iran menahan dua kapal kontainer di Selat Hormuz, memperdalam tekanan rantai pasok.
Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah CSIS, menyebut Selat Hormuz tertekan dengan lalu lintas terhenti total, mengutip Bloomberg Technoz. Ia menggambarkan situasi sebagai stalemate geopolitik tanpa konfrontasi langsung.
Frank Walbaum dari Dow Jones Newswires menilai stalemate berkepanjangan akan mempertahankan tekanan harga, mengutip idxchannel. Sebaliknya, terobosan diplomatik bisa memicu koreksi cepat di pasar minyak.
Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menilai konflik masih dalam jalur de-eskalasi meski tensi meningkat, mengutip katadata. Ia mengategorikan situasi sebagai sentimen negatif moderat, bukan ancaman parah.
Wall Street pekan ini akan diuji laporan laba Magnificent Seven dan rapat The Fed pada Rabu. Ini berpotensi menjadi keputusan terakhir Jerome Powell sebelum transisi ke Kevin Warsh pada Mei.
Bagi investor Indonesia, lonjakan minyak menambah tekanan defisit transaksi berjalan dan inflasi domestik. Saham emiten energi domestik berpeluang menjadi penerima manfaat sementara dari kenaikan harga.
Pemantauan kabar lanjutan diplomasi dan sinyal The Fed akan jadi penentu arah pasar sepekan. Volatilitas dua arah tetap dominan untuk komoditas dan ekuitas global.












