Gotrade News - Saham Oracle (ORCL) ditutup di $190,72 pada 27 Mei 2026, naik 1,09% di tengah penguatan tesis AI cloud. Analis menyebut Oracle sebagai saham AI yang masih undervalued dibanding hyperscaler pesaing.
Pendorong utamanya adalah backlog Oracle Cloud Infrastructure yang terus membesar dan posisi Oracle sebagai hyperscaler keempat di belakang AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud. Pertumbuhan ini menempatkan Oracle (ORCL) di radar investor saham teknologi AS yang mencari eksposur AI dengan valuasi wajar.
Key Takeaways
- Oracle ditutup $190,72 pada 27 Mei 2026, naik 1,09% dengan tesis hyperscaler keempat yang masih undervalued.
- Revenue FY25 mencapai $57,4 miliar (tumbuh 8%) dengan guidance $67 miliar untuk FY26 dari manajemen.
- Q3 FY26 mencatat pertumbuhan revenue 22% YoY ke $17,2 miliar, ditopang permintaan infrastruktur cloud.
Menurut The Motley Fool, Oracle saat ini menggelontorkan capex besar untuk membangun pusat data baru. Belanja agresif ini menjadi beban margin jangka pendek, namun diyakini berubah menjadi revenue cloud multi-tahun setelah fasilitas online.
Tesis utama analis adalah Oracle Cloud Infrastructure (OCI) yang menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan. Posisi sebagai hyperscaler keempat memberikan Oracle akses ke total addressable market yang sangat besar di segmen AI workload.
Performa Keuangan dan Valuasi
Oracle membukukan revenue fiskal 2025 sebesar $57,4 miliar dengan pertumbuhan 8% dan net margin 21,7%. Manajemen memberikan guidance revenue $67 miliar untuk tahun fiskal 2026, melanjutkan momentum dari segmen cloud.
Quarter Q3 FY26 menjadi katalis utama dengan pertumbuhan revenue 22% YoY menyentuh $17,2 miliar. Dilansir The Motley Fool, momentum ini ditopang oleh permintaan kuat untuk infrastruktur cloud yang melayani beban kerja AI.
Dari sisi valuasi, forward P/E Oracle di 24,0x bersaing ketat dengan ServiceNow (NOW) yang berada di 23,9x. Rasio P/S Oracle 8,8x memang lebih tinggi dari NOW di 7,0x, namun masih terjangkau dibandingkan rata-rata hyperscaler.
Oracle juga memberikan dividend yield sekitar 1%, sebuah fitur yang jarang ditemukan pada saham AI growth murni. Kombinasi dividend plus pertumbuhan cloud yang stabil menjadi daya tarik tambahan bagi investor jangka panjang yang ingin mengurangi volatilitas portofolio.
Pembanding terdekat ServiceNow membukukan revenue 2025 sebesar $13,3 miliar dengan pertumbuhan 21%, namun skalanya masih jauh di bawah Oracle. Pertumbuhan Q1 2026 NOW di angka 22% dengan revenue $3,4 miliar memperlihatkan ekspansi serupa, namun valuasi P/S Oracle yang lebih premium mencerminkan posisinya sebagai hyperscaler.
Risiko yang Membayangi Tesis
Tantangan terbesar Oracle ada pada struktur neraca dengan rasio debt-to-equity 5,1x yang jauh lebih tinggi dibanding NOW di 0,2x. Beban hutang ini mencerminkan biaya membangun data center untuk mengejar tiga hyperscaler besar.
Free cash flow Oracle juga sempat tertekan ke minus $394 juta, sementara ServiceNow mencatat positif $4,6 miliar. Investor perlu memantau apakah capex Oracle benar-benar terkonversi menjadi cash flow positif seiring pusat data baru beroperasi.
Meski demikian, analis tetap merekomendasikan Oracle sebagai pilihan superior dibanding NOW karena rekam jejak panjang, kepemimpinan co-CEO baru, dan yield dividen. Investor yang mencari eksposur AI di luar Microsoft (MSFT) dapat menjadikan Oracle alternatif dengan profil valuasi lebih ramah.
Bagi kamu yang ingin masuk ke tema AI cloud, ORCL menawarkan kombinasi unik antara growth dua digit dan valuasi yang masih wajar. Disiplin memantau eksekusi capex tetap menjadi kunci dalam menjaga tesis investasi tetap utuh.












