Gotrade News - Nilai tukar rupiah mendekati level Rp 17.000 per dolar AS, penutupan Jumat (27/03/2026). Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama pelemahan rupiah.
- Ketidakpastian global menekan rupiah.
- Inflasi tinggi di AS memperburuk kondisi.
- Pengaruh Lebaran terbatas pada pertumbuhan ekonomi.
Konflik Timur Tengah ini menciptakan eskalasi yang mempengaruhi pasar energi global. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran turut memperbesar tekanan. Sentimen negatif dari perkembangan ini semakin menekan rupiah.
Presiden AS Donald Trump menyebut ada kemajuan dalam negosiasi dengan Iran. Namun, mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah memicu ketidakpastian lebih lanjut. Restasi proposal damai dianggap sepihak oleh Iran.
Pembatasan pasokan minyak global telah mengurangi 11 juta barel per hari. Krisis ini digambarkan lebih parah dibanding guncangan minyak 1970-an, meningkatkan inflasi di Amerika Serikat.
Sentimen inflasi tinggi ini mempengaruhi kebijakan moneter AS. Ekspektasi semula pemangkasan suku bunga dua kali di tahun ini; namun berubah. Sekarang, pengetatan 12 basis poin oleh Fed diprediksi akan terjadi, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Perayaan Hari Raya Lebaran 2026 diperkirakan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, dampaknya terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada kuartal pertama 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dari target yang ditetapkan.
Belanja pemerintah dinilai dapat membantu mendorong ekonomi nasional. Fokus ditujukan pada program prioritas serta bantuan sosial.
Referensi:
- Liputan6, Rupiah Dekati 17.000 terhadap Dolar AS Hari Ini 27 Maret 2026. Diakses 27 Maret 2026
- MetroTV, Rupiah Jumat Sore Diperdagangkan ke Level Rp16.979/USD. Diakses 27 Maret 2026
- Berita Satu, Rupiah Jumat 27 Maret Ambruk Dekati Level Rp 17.000 Per Dolar AS. Diakses 27 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5













