Gotrade News - Harga emas diproyeksikan mengalami kenaikan hingga 20% meskipun saat ini turun hampir 4% dalam seminggu terakhir. UBS memprediksi tren positif ini akan mirip dengan kenaikan saham energi yang telah menguat 22% sejak awal tahun.
Key Takeaways:
- Harga emas diharapkan naik antara USD 5,900-6,200/oz tahun ini.
- Kenaikan harga energi dan inflasi menekan harga emas.
- Emas berperan sebagai pelindung terhadap risiko ekonomi global.
Meski emas baru-baru ini melemah, prediksi UBS memperkirakan pemulihan seiring relasi konflik Iran-Israel. Harga energi yang tinggi dan kekhawatiran inflasi saat ini memang memberatkan posisi emas.
Kondisi ekonomi global sedang tertekan, menambah kenaikan dolar AS dan spekulasi kenaikan suku bunga. UBS mencatat emas jarang mengalami penurunan besar saat terjadi konflik geopolitik.
Bitcoin juga mencatat kenaikan signifikan sejak perang Iran, mengungguli indeks dunia dan emas. Namun, proyeksi jangka pendek menunjukkan reli ini mungkin berbalik pada bulan berikutnya.
Meskipun demikian, UBS percaya bahwa emas akan mengikuti pola seperti yang terjadi pada konflik sebelumnya, dengan memanfaatkan perubahan dinamika ekonomi sebagai faktor pendorong utama.
Dalam konteks investasi, emas dianggap pelindung dari ancaman jangka panjang seperti devaluasi mata uang dan perlambatan ekonomi. Hal ini menjadi alasan utama UBS untuk memproyeksikan lonjakan harga emas dalam waktu dekat.
Kepercayaan investor diharap kembali, melihat kestabilan emas selama konflik internasional sebelumnya. Pemulihan ini akan bergantung pada kebijakan ekonomi dan pergeseran sentimen pasar yang lebih luas.
Referensi:
- Bloomberg, Fed Interest Rate Decision Must Weigh Iran War, Inflation, Slow Growth. Diakses 18 Maret 2026
- Axios, Top Trump intel official resigns over Iran war: "No imminent threat". Diakses 18 Maret 2026
- Barchart, Crude Oil Prices Gain as Iran Renews Attacks on Middle East Energy Infrastructure. Diakses 18 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












