Rupiah Tembus Rp 17.100, BI Jaga Stabilitas 24 Jam

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Rupiah Tembus Rp 17.100, BI Jaga Stabilitas 24 Jam

Share this article

Key Takeaways:

  • Rupiah melemah ke Rp 17.130/USD, terdepresiasi 2,39% secara year-to-date (YTD).
  • BI beroperasi 24 jam dengan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF offshore untuk menjaga stabilitas kurs.
  • Kebijakan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi disebut Destry sebagai faktor positif yang membantu menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.

Seberapa Dalam Rupiah Tertekan?

Sejak konflik di Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari 2026, rupiah telah melemah 1,91% terhadap dolar AS. Secara year-to-date, depresiasi rupiah sudah mencapai 2,39%, menempatkan Indonesia di tengah gelombang tekanan yang juga dirasakan oleh Korea Selatan, Thailand, dan Filipina.

Pelemahan ini bukan anomali regional, melainkan cerminan dari peningkatan premi risiko global yang mendorong capital outflow dari seluruh pasar berkembang. Ketika investor global bergerak ke aset-aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, mata uang negara berkembang otomatis menjadi korban pertama.

Bagaimana BI Merespons?

BI tidak tinggal diam. Otoritas moneter Indonesia mengaktifkan tiga jalur intervensi secara bersamaan: pasar spot valas domestik, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Kombinasi ketiga instrumen ini dirancang untuk menyerap tekanan jual rupiah dari berbagai sudut pasar.

Selain intervensi langsung, BI juga menetapkan target pertumbuhan uang primer di atas 10% sebagai bagian dari kebijakan moneter yang bersifat akomodatif. Ini adalah sinyal bahwa BI tidak ingin stabilisasi kurs dilakukan dengan cara memperketat likuiditas yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi domestik.

Faktor BBM: Bantalan yang Sering Terlupakan

Destry Damayanti menyoroti satu faktor penting yang sering luput dari perhatian pasar: keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. "Kebijakan pemerintah tidak menaikkan harga BBM, khususnya untuk kelompok masyarakat bawah, akan positif untuk menahan rupiah ke depannya," ujar Destry.

Logikanya sederhana namun krusial. Kenaikan harga BBM akan mendorong inflasi domestik, yang pada akhirnya memperburuk daya beli masyarakat dan meningkatkan tekanan terhadap stabilitas makroekonomi. Dengan menahan harga BBM, pemerintah secara tidak langsung membantu BI menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, yang merupakan salah satu fondasi kepercayaan terhadap rupiah.

Ini adalah contoh nyata dari koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter BI yang disebutkan Destry sebagai strategi bersama dalam menghadapi tekanan eksternal. Bagi investor yang memahami inflasi, suku bunga, dan saham, dinamika ini sangat relevan untuk dicermati dalam membentuk portofolio.

Rupiah Versus Mata Uang Asia Lainnya

Indonesia tidak sendirian dalam tekanan ini. Korea Selatan, Thailand, dan Filipina mengalami tekanan serupa terhadap mata uang domestik mereka sejak serangan terhadap Iran memperburuk sentimen geopolitik global awal April 2026. Ini adalah pola klasik dari macro trading: ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, investor institusional global mereduksi eksposur ke aset berisiko di pasar berkembang secara serentak.

Penguatan DXY yang mendorong pelemahan rupiah adalah konsekuensi langsung dari perpindahan modal ke aset safe haven. Selama faktor pemicu ini, yakni ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS, belum mereda, tekanan terhadap seluruh mata uang Asia diperkirakan akan berlanjut.

Apa Artinya bagi Investor?

Bagi investor domestik yang berinvestasi di aset global, pelemahan rupiah adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, return portofolio yang denominasi dolar AS akan terlihat lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Di sisi lain, capital outflow yang dipicu pelemahan rupiah bisa menekan foreign flow di IHSG dan menciptakan volatilitas tambahan di pasar saham domestik.

Dalam situasi seperti ini, investor perlu memahami profil risiko investasi mereka dengan lebih cermat. Bagi yang sudah terekspos ke aset dolar AS seperti saham S&P 500 ETF, kondisi rupiah yang lemah justru dapat memberikan cushion tambahan pada return. Sedangkan bagi investor yang masih mempertimbangkan kapan waktu terbaik untuk masuk, strategi DCA vs lump sum patut dipertimbangkan untuk menavigasi volatilitas jangka pendek ini.

Stabilitas kurs adalah fondasi kepercayaan investasi jangka panjang. BI yang begadang menjaga rupiah adalah sinyal bahwa otoritas moneter Indonesia serius merespons tekanan eksternal, dan itu sendiri merupakan faktor stabilisasi psikologis bagi pasar.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade