Gotrade News - Nilai tukar rupiah melemah signifikan hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (19/02). Tekanan ini terjadi menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia yang dinanti pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.
Key Takeaways:
Rupiah menyentuh level Rp16.925 per dolar AS akibat penguatan data ekonomi Amerika Serikat.
Investasi sektor kecerdasan buatan (AI) memperkuat posisi dolar AS dan margin korporasi global.
Investor mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk arah kebijakan moneter domestik.
Mengutip data Bloomberg, mata uang garuda dibuka melemah ke posisi Rp16.925 per dolar AS pagi ini. Pelemahan ini menandai tren negatif selama dua hari berturut-turut di pekan perdagangan yang tergolong pendek.
Dolar AS justru kian perkasa berkat data pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam yang solid sepanjang tahun 2025. Ekonomi Amerika Serikat tercatat tumbuh stabil di level 2,7% meski penciptaan lapangan kerja cenderung stagnan.
Gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan menjadi penopang utama produktivitas tanpa memicu lonjakan upah tenaga kerja yang signifikan. Kondisi ini membuat margin laba korporasi Amerika tetap tinggi sehingga aset dolar menjadi pilihan utama investor global.
Daya tarik aset Amerika Serikat memicu risiko arus keluar modal atau capital outflow dari pasar domestik Indonesia. Hal ini terlihat dari penurunan total penawaran lelang Surat Utang Negara sebesar 17,66% dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut analisis pasar, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut mempengaruhi sentimen negatif aset berisiko. Investor mewaspadai potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz meski perundingan kedua negara sedang berlangsung.
Risalah pertemuan The Fed yang bernada hawkish juga semakin memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang berkembang. Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi PCE Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan bunga selanjutnya.
Investor domestik kini menanti sikap Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar sore ini. Pasar mengantisipasi kemungkinan bank sentral mengambil langkah dovish di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Laporan dari LPEM FEB Universitas Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi domestik akan stagnan di kisaran 5,3% tahun ini. Tantangan fiskal dari program prioritas pemerintah dinilai masih membebani upaya penguatan fundamental mata uang rupiah.
Saat rupiah sedang tertekan, aset berbasis Dolar AS justru menunjukkan performa solid berkat tren AI dan ekonomi yang kuat. Kamu bisa mulai mendiversifikasi portofolio ke pasar saham Amerika Serikat untuk menjaga nilai asetmu dari fluktuasi kurs.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
Katadata, Rupiah Melemah Dekati 17.000 Per Dolar AS Jelang Pengumuman Suku Bunga BI. Diakses pada 19 Feb 2026
Bloomberg Technoz, Rupiah Melemah ke Atas Rp16.900/US$ Kala Pembukaan Pasar. Diakses pada 19 Feb 2026
Featured Image: Shutterstock












