Gotrade News - Rupiah melemah ke level Rp17.873,5 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026) pukul 11:23 WIB. Pelemahan mencapai 72,5 poin atau 0,41 persen, mendekati level psikologis Rp18.000 per USD.
Tekanan terhadap rupiah dipicu ketegangan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak global di atas USD 92 per barel. Pelemahan ini menambah risiko bagi aset emerging market dan menguatkan permintaan terhadap safe-haven seperti dolar AS.
Key Takeaways
- Rupiah melemah 72,5 poin ke Rp17.873,5 per USD pada perdagangan Kamis siang.
- Pengamat memprediksi rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per USD pekan ini.
- Konflik Timur Tengah dan harga minyak USD 96 per barel menjadi pemicu utama pelemahan.
Mata uang Garuda telah dibuka di posisi Rp17.857 per USD pada pukul 09:01 WIB, melemah 0,31 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.801. Pelemahan ini sejalan dengan tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia di tengah penguatan indeks dolar AS.
Menurut IDX Channel, won Korea menjadi pelemah terdalam dengan koreksi 0,49 persen. Ringgit Malaysia melemah 0,24 persen, baht Thailand 0,23 persen, dan peso Filipina turun 0,17 persen pada sesi yang sama.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Faktor utama berasal dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan AS ke fasilitas Iran dan ancaman pembalasan. Situasi tersebut mengerek harga minyak mentah hingga menyentuh USD 96 per barel dari level kisaran USD 92.
Dilansir Liputan6, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah dapat mendekati kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per USD. Penguatan dolar AS juga didukung probabilitas 52,3 persen The Fed mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun ini.
Sentimen risk-off ini turut mendorong investor global melirik instrumen safe-haven seperti Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP). Lonjakan harga minyak juga menguatkan permintaan terhadap proksi safe-haven lain melalui VanEck Gold Miners ETF (GDX).
Risiko yang Masih Membayangi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi domestik. Menurut Kompas Money, Purbaya menyebut kondisi ini tidak masuk akal karena biasanya mata uang melemah saat ada gangguan ekonomi.
Pemerintah menyatakan yield obligasi negara turun karena intervensi yang dilakukan otoritas. APBN 2026 dibangun di atas asumsi harga minyak USD 100 per barel, sehingga belum membutuhkan revisi APBN-P meski harga energi berfluktuasi.
Pelemahan rupiah berdampak pada eksposur investor Indonesia terhadap aset luar negeri, terutama melalui instrumen seperti iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO). Investor ritel yang memegang saham AS dalam denominasi dolar justru menikmati keuntungan kurs di tengah pelemahan rupiah.
Pasca libur Idul Adha, rupiah diprediksi ditutup di kisaran Rp17.900 per USD pada Kamis sore. Ibrahim memperkirakan pembukaan pasar Jumat berpotensi membawa rupiah mendekati level Rp18.000 per USD.












