Rupiah Melemah ke Rp17.221, Minyak Jadi Pemicu

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Rupiah Melemah ke Rp17.221, Minyak Jadi Pemicu

Share this article

Gotrade News - Nilai tukar rupiah melemah 10 poin ke Rp17.221 per dolar AS pada pembukaan Selasa (28/04). Pelemahan tersebut dipicu lonjakan harga minyak global dan sentimen risk-off pasar, menurut laporan Kompas.

Katadata mencatat rupiah sempat menguat tipis 0,14% ke Rp17.218 sebelum berbalik melemah ke Rp17.235 pada pukul 09.10 WIB. Penutupan sebelumnya pada 24 April berada di level Rp17.229 per dolar AS.


Key Takeaways:

  • Rupiah dibuka melemah ke Rp17.221 per dolar AS pada Selasa (28/04), menurut Kompas.
  • Harga minyak Brent naik 2,8% ke 108,23 dolar AS per barel, menekan mata uang emerging market.
  • Proyeksi rentang harian rupiah berada di Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS.

Lukman Leong dari Doo Financial Futures menilai rupiah berpotensi melemah seiring sentimen pasar yang berbalik risk-off. Penyebab utamanya adalah ketidakpastian proses damai Timur Tengah, terutama setelah laporan AS menolak proposal terbaru Iran, kata Lukman lewat Kompas.

Indeks dolar AS atau DXY menguat ke level 98,533 pada perdagangan Selasa pagi. Penguatan DXY tersebut memicu arus modal global berpindah ke aset aman berdenominasi dolar.

Harga minyak mentah Brent tercatat naik 2,8% ke 108,23 dolar AS per barel, menurut Kompas. Lonjakan ini menandai kenaikan enam hari beruntun dan mengangkat tekanan pada mata uang importir energi seperti Indonesia.

Mata uang Asia bergerak campuran dengan ringgit Malaysia menguat 0,4% pada sesi yang sama. Yuan China dan yen Jepang sebaliknya melemah tipis terhadap dolar, menurut data Kompas.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui ketidakpastian global tetap tinggi dalam pernyataan resmi terbaru. Kebijakan tarif dan eskalasi konflik geopolitik disebut sebagai sumber utama tekanan terhadap stabilitas rupiah, lapor RRI.

Bagi investor ritel, pelemahan rupiah berpotensi menekan kinerja saham emiten dengan beban impor tinggi. Sektor farmasi, otomotif, dan barang konsumsi biasanya paling sensitif terhadap kenaikan biaya bahan baku berdenominasi dolar.

Sebaliknya emiten komoditas energi cenderung diuntungkan saat harga minyak menguat di pasar global. Investor dapat mempertimbangkan eksposur ke saham produsen minyak AS sebagai lindung nilai alami terhadap risiko kurs.

Diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS menjadi opsi hedging yang relevan dalam kondisi risk-off seperti ini. Akses ke saham AS via platform global memungkinkan investor mengelola eksposur kurs secara langsung.

Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan rating utang Indonesia di Baa2 pada Februari 2026, menurut Metro TV. Outlook tersebut direvisi dari stabil menjadi negatif, mencerminkan kewaspadaan pasar terhadap fundamental jangka menengah.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran sepanjang sesi Selasa. Resolusi diplomatik berpotensi meredakan tekanan pada rupiah dan mengembalikan minat risiko global.

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade