Gotrade News - Rupiah mencatatkan penguatan di pasar luar negeri atau Non-Deliverable Forwards (NDF) saat pasar domestik libur merayakan Tahun Baru Imlek. Pergerakan positif pada Senin (16/02) ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Momentum ini memberikan sedikit ruang napas bagi mata uang Garuda di tengah tekanan dolar AS yang terjadi beberapa pekan terakhir. Kamu perlu memperhatikan level ini sebagai sinyal awal sebelum pasar domestik kembali beroperasi penuh dan merespons kebijakan Bank Indonesia nanti.
Key Takeaways
-
Rupiah menguat di pasar NDF ke kisaran Rp16.839 per dolar AS berkat data inflasi AS yang melandai.
-
Penguatan ini bersifat taktis dan sementara karena volume transaksi terbatas selama libur pasar Asia.
-
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas kurs.
Data inflasi AS terbaru menunjukkan kenaikan hanya 0,2 persen secara bulanan atau lebih rendah dari prediksi awal. Angka tahunan juga turun menjadi 2,4 persen yang memberikan sinyal bahwa tekanan harga di negara tersebut mulai mereda.
Kondisi ini langsung direspons positif oleh pasar keuangan global karena memperkuat harapan pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Imbal hasil obligasi AS mengalami penurunan yang membuat daya tarik dolar AS sedikit memudar dalam jangka pendek.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman menyebutkan bahwa rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Menurutnya penurunan inflasi AS disebabkan oleh dampak tarif yang sudah mulai menghilang dari komponen harga konsumen.
Namun penguatan ini belum bisa dianggap sebagai pembalikan tren jangka panjang bagi mata uang Garuda. Pergerakan pasar saat ini cenderung teknikal karena likuiditas yang tipis selama masa liburan di kawasan Asia.
Investor global masih mengambil sikap wait and see terhadap arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Pejabat bank sentral AS menegaskan bahwa inflasi belum sepenuhnya kembali ke target ideal meski ruang pelonggaran sudah terbuka.
Sentimen domestik juga masih membayangi pergerakan rupiah meski ada angin segar dari faktor eksternal. Pasar masih menimbang risiko pelebaran defisit anggaran negara serta isu independensi bank sentral yang menjadi sorotan belakangan ini.
Morgan Stanley Capital International (MSCI) bahkan sempat menuntut float yang lebih besar yang menambah beban sentimen negatif. Hal ini membuat penguatan mata uang pasar berkembang termasuk rupiah terjadi secara selektif dan terbatas.
Pekan ini akan menjadi momen krusial karena Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan tingkat suku bunga acuan. Konsensus pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar.
Langkah ini dinilai perlu untuk menegaskan independensi BI di mata investor asing di tengah ketidakpastian global. Keputusan tersebut akan menjadi konfirmasi apakah penguatan saat libur ini dapat bertahan atau justru kembali tertekan.
Itu dia rangkuman terbaru yang perlu diperhatikan pasar hari ini. Ikuti Gotrade News untuk update saham dan ETF AS, plus perkembangan makro yang relevan untuk investor Indonesia. Untuk belajar lebih terstruktur, kunjungi Panduan Gotrade agar memahami investasi saham Amerika secara lengkap.
Jika ingin merespons berita ini, pantau pergerakan aset dan cek portofolio di aplikasi Gotrade. Investasi saham dan ETF AS di Gotrade bisa dimulai dari Rp15 ribu, lalu sesuaikan langkah dengan tujuan dan profil risiko. Download dan buka aplikasi Gotrade sekarang!
Referensi:
-
Antara News, Rupiah pada Senin pagi menguat jadi Rp16.831 per dolar AS. Diakses pada 16 Februari 2026
-
Bloomberg Technoz, Rupiah Menguat di Pasar NDF Kala Pasar Spot Libur Hari Ini. Diakses pada 16 Februari 2026
-
Metro TV, Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.827 per USD. Diakses pada 16 Februari 2026
-
Featured Image: Shutterstock











