Gotrade News - Nilai tukar rupiah mengalami penguatan tipis pada Selasa (31/3/2026), naik 15 poin menjadi Rp16.987 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.002. Kenaikan ini dipicu pernyataan dovish dari pejabat Federal Reserve (The Fed).
Pernyataan pimpinan The Fed, Jerome Powell, yang tidak melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga, memberi angin segar bagi rupiah. Ekspektasi inflasi yang tetap terkendali menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.
Powell menyebut bahwa The Fed lebih memilih untuk tidak menanggapi kenaikan harga energi dengan suku bunga lebih tinggi. Kebijakan moneter dinilai dapat membebani pertumbuhan ekonomi bila diterapkan saat ini.
Penguatan rupiah masih dipandang terbatas. Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak, masih memberikan tekanan pada mata uang ini.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik di Iran, yang dapat memicu fluktuasi nilai tukar.
Pada perdagangan hari yang sama, mata uang negara Asia lainnya juga menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Yen Jepang dan ringgit Malaysia mengalami penguatan dalam jumlah kecil.
Meski naik tipis, nilai rupiah masih tetap pada kisaran Rp17.000. Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan berfluktuasi tetapi berpotensi ditutup melemah.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang melemah juga menjadi perhatian. Pengurangan 92 ribu pekerjaan di bulan lalu semakin menambah ketidakpastian ekonomi.
Dalam iklim ekonomi global saat ini, The Fed memandang kebijakan suku bunga yang stabil lebih kondusif, mengingat dampak belum jelas dari eskalasi di Timur Tengah.
Referensi:
- Liputan6, Rupiah Hari Ini Menguat Tipis Usai Tembus 17.000 per USD. Diakses 31 Maret 2026
- MetroTV, Rupiah Masih di Rp17.000 Pagi Ini. Diakses 31 Maret 2026
- Berita Satu, Rupiah Hari Ini 31 Maret Masih Tertekan pada Level 17.000 Per Dolar AS. Diakses 31 Maret 2026
Featured Image: GPT Image 1.5












