Gotrade News - Rupiah masih tertekan di kisaran Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (07/05). Pelemahan mata uang ini menempatkan saham farmasi dan emiten berutang dolar pada posisi paling rentan tergerus margin.
Sebaliknya, eksportir berpotensi menerima dorongan dari nilai tukar yang lebih lemah. Pelaku pasar kini menunggu sinyal lanjutan dari arah kebijakan Bank Indonesia.
Key Takeaways
- Rupiah bertahan di Rp17.325 per dolar AS, masih dekat level rendah Rp17.400 dalam sepekan terakhir
- Saham farmasi paling tertekan karena sekitar 90% bahan baku diimpor menurut Mirae Asset Sekuritas
- Emiten dengan utang dolar tanpa cadangan kas USD menanggung biaya servis lebih tinggi menurut Reliance Sekuritas
Mata uang rupiah berada di Rp17.325 per dolar AS pada Kamis (07/05) pagi. Posisi ini menguat tipis 62 poin atau 0,36% dari penutupan sebelumnya di Rp17.387 per dolar AS.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah sempat menyentuh level rendah Rp17.400 per dolar AS. Tren pelemahan ini menjadi fokus utama pelaku pasar saham domestik.
Farmasi paling rentan terhadap tekanan biaya
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut sektor farmasi paling rentan terhadap pelemahan rupiah. Ketergantungan impor bahan baku farmasi mencapai sekitar 90% dari total kebutuhan produksi.
"Kalau sektor atau emiten yang paling beresiko farmasi pastinya," ujar Nafan dikutip Kompas. Pelemahan rupiah menciptakan risiko cost-push bagi struktur biaya emiten farmasi.
Sektor ritel dan elektronik turut tertekan oleh pelemahan rupiah. Banyak komponen dan produk jadi di kedua sektor ini masih bergantung pada impor.
Beban tambahan untuk emiten berutang dolar
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menyebut pelemahan rupiah berdampak negatif bagi emiten dengan eksposur USD. Biaya yang ditanggung emiten otomatis lebih mahal seiring naiknya nilai tukar dolar.
"Adanya pelemahan nilai tukar Rupiah tentunya akan berimbas negatif bagi para emiten yang memiliki eksposure dalam bentuk USD," kata Reza dikutip Liputan6. Beban ini berlaku baik untuk pembayaran utang dolar maupun pembelian bahan baku impor.
Reza menambahkan emiten dengan cadangan kas USD relatif terlindung dari pelemahan rupiah. Cadangan tersebut bisa menjadi penyangga untuk pembelian bahan baku tanpa konversi tambahan.
Saham big caps di pasar domestik bergerak mixed pada sesi pagi. MEDC, CDIA, dan BRPT terpantau melemah di tengah tekanan terhadap rupiah.
Eksportir menjadi sisi positif dari pelemahan rupiah ini. Pendapatan dalam dolar memberi keuntungan saat sebagian besar biaya operasional masih berbasis rupiah.
Pelaku pasar akan terus memantau arah kurs hingga akhir pekan ini. Kebijakan Bank Indonesia dan data ekonomi global menjadi penentu utama lintasan rupiah berikutnya.












