Gotrade News - Rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (13/05) sebelum menguat tipis ke Rp17.465 di sesi sore. Bank Indonesia masuk pasar Surat Utang Negara untuk meredam tekanan lanjutan terhadap mata uang nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pelemahan ini belum mengganggu hitungan subsidi energi pemerintah. Intervensi terkoordinasi BI dan Kementerian Keuangan menjadi sinyal kebijakan utama bagi investor pasar valas dan obligasi.
Key Takeaways
- Rupiah sempat menembus Rp17.500 per dolar AS pada Senin (12/05) pagi, kemudian menguat tipis 0,2 persen ke Rp17.465 pada Selasa sore.
- Bank Indonesia melakukan intervensi pasar SUN dan valas di tiga sesi perdagangan global untuk menstabilkan mata uang.
- Menkeu Purbaya menegaskan asumsi minyak USD120 per barel pada APBN 2026 memberi ruang fiskal cukup luas.
Tekanan Global Menyeret Rupiah ke Rekor Baru
Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan imbal hasil US Treasury 10 tahun kini mendekati 4,5 persen. Level itu naik dari sekitar 4 persen pada akhir Februari 2026 dan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut mengerek harga minyak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari. Menurut Katadata, sentimen risk-off itu menekan peso Filipina, baht Thailand, dan rupee India secara bersamaan.
Penguatan dolar AS yang tercermin pada indeks UUP menjadi sumber tekanan eksternal utama. Investor global melepas aset emerging market termasuk ETF Indonesia EIDO sepanjang awal Mei.
Faktor domestik turut memperberat tekanan musiman terhadap rupiah pada periode Mei. Permintaan dolar meningkat dari repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan jemaah haji Indonesia.
Intervensi Pasar SUN Topang Pemulihan Tipis
Kementerian Keuangan mengaktifkan Bond Stabilization Fund untuk membeli kembali SBN di pasar sekunder. Dilansir Bloomberg Technoz, langkah ini menahan kenaikan imbal hasil dan menopang pemulihan rupiah pada Selasa sore.
Imbal hasil SUN tenor 5 tahun turun 7,8 basis poin ke 6,60 persen sebagai respons paling agresif. Tenor 1 dan 2 tahun masing-masing terkoreksi 4,5 dan 4,8 basis poin ke kisaran 6,34 hingga 6,35 persen.
Penurunan yield obligasi global juga terlihat pada instrumen Treasury jangka panjang seperti TLT. Pergerakan dua arah di pasar surat utang menjadi indikator selera risiko investor terhadap aset durasi panjang.
Bank Indonesia menegaskan kehadirannya aktif di sesi perdagangan Jakarta, Eropa, dan Amerika. BI juga memantau pergerakan rupiah lintas pasar valas global untuk menjaga stabilitas nilai tukar harian.
Menkeu Pastikan Asumsi Subsidi Masih Aman
Menkeu Purbaya menyatakan kondisi rupiah saat ini belum memaksa pemerintah merevisi hitungan subsidi energi. Melansir Kompas, asumsi harga minyak USD120 per barel pada APBN 2026 menyisakan bantalan signifikan.
Indonesian Crude Price tercatat rata-rata USD68 per barel hingga Maret 2026, jauh di bawah asumsi anggaran. Selisih harga itu memberi ruang fiskal terhadap tekanan kurs tanpa membongkar postur subsidi tahun berjalan.
Purbaya juga bertemu Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk membahas peningkatan penerimaan negara bukan pajak migas. Fokus pemerintah bergeser ke optimalisasi sektor energi, bukan ekspansi belanja subsidi di tengah pelemahan rupiah.
Pembangunan jaringan pipa gas Sumatra ke Jawa menjadi salah satu agenda jangka menengah yang dibahas. Proyek itu bergantung pada penyelesaian pengembangan lapangan gas Andaman di Aceh dalam beberapa tahun ke depan.
Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat di tengah tekanan eksternal. Pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, dan manajemen utang luar negeri prudent disebut sebagai bantalan kebijakan moneter.












