Gotrade News - Saham Microsoft (MSFT) tertekan setelah Oppenheimer Holdings memangkas target harga ke US$515 dari sebelumnya US$630 karena kekhawatiran capex AI. Penurunan rating ini terjadi bersamaan dengan aksi jual sektor AI yang menekan Nasdaq futures pada Senin.
Menurut Watcher Guru pada Senin (28/04), Oppenheimer menilai Microsoft belum menunjukkan return yang sebanding dengan besaran investasi AI. Firma ini memperingatkan bahwa belanja AI menyerap porsi biaya yang lebih besar dari kapasitas perusahaan untuk menyerapnya.
--- - Oppenheimer pangkas target harga Microsoft ke US$515 dari US$630 atas kekhawatiran capex AI - Nasdaq 100 E-Mini futures turun 0,93% setelah OpenAI meleset dari target pendapatan internal - Motley Fool menilai Amazon lebih unggul sebagai pilihan AI dibanding Microsoft di siklus saat ini ---
Target baru ini berada jauh di bawah level US$630 sebelumnya dan mengimplikasikan potensi penurunan lanjutan dari harga saat ini. Microsoft sudah turun sekitar 22% dalam enam bulan terakhir seiring narasi capex AI yang memburuk.
Menurut Watcher Guru pada Senin (28/04), komitmen capex AI Microsoft sebesar US$120 miliar membuat saham rentan terhadap perubahan sentimen Wall Street. Catatan tersebut secara khusus menyoroti risiko bahwa perusahaan terlalu agresif dalam belanja modal.
June Nasdaq 100 E-Mini futures (NQM26) turun 0,93% pada sesi yang sama saat kekhawatiran investasi AI kembali muncul. Saham semikonduktor dan cloud memimpin pelemahan, dengan Oracle turun sekitar 4% dan CoreWeave melemah sekitar 5% di premarket.
Menurut Barchart pada Senin (28/04), Arm Holdings turun sekitar 8% sementara AMD dan Broadcom masing-masing turun 4% dan 3%. The Fed juga memulai pertemuan FOMC dua hari dengan suku bunga diperkirakan tetap di kisaran 3,50% sampai 3,75%.
Faktor OpenAI menambah lapisan tekanan baru pada narasi hyperscaler global. Wall Street Journal melaporkan pengembang ChatGPT meleset dari beberapa target penjualan bulanan di 2026 dan tidak mencapai target pengguna internal.
Menurut PYMNTS pada Senin (28/04), CFO Sarah Friar memperingatkan OpenAI mungkin kesulitan membayar kontrak komputasi mendatang jika pendapatan tidak tumbuh cepat. Dewan direksi dilaporkan mulai meneliti komitmen data center OpenAI di tengah momentum bisnis yang melambat.
Dinamika ini langsung mengena ke eksposur Microsoft sebagai mitra cloud utama OpenAI. Setiap penurunan permintaan komputasi OpenAI berpotensi menekan asumsi utilisasi kapasitas Azure dalam rencana capex Microsoft.
Motley Fool secara eksplisit membandingkan Microsoft dan Amazon, dan menilai Amazon sebagai pilihan investasi AI yang lebih unggul. Artikel itu menyoroti monetisasi jangka pendek yang lebih kuat dan keunggulan infrastruktur AWS.
Menurut Motley Fool pada Senin (28/04), AWS mencapai run rate pendapatan AI tahunan sebesar US$15 miliar di Q1 2026. Amazon juga diproyeksi membelanjakan capex sekitar US$200 miliar tahun ini, dengan CEO Andy Jassy yang secara publik membela alokasi tersebut.
Pendapatan cloud Microsoft Azure naik 26% secara tahunan, dengan layanan Azure tumbuh 39% pada kuartal terakhir. Artikel tersebut tetap mengkategorikan Microsoft sebagai pihak yang tertinggal dalam perlombaan AI meskipun pertumbuhan tersebut solid.
Adopsi Copilot dilaporkan baru sekitar 3% dari pelanggan komersial Office yang membeli lisensi Microsoft 365 Copilot. Penyerapan yang lambat memperkuat tesis bahwa monetisasi tertinggal dari skala capex yang sudah dikeluarkan.
Microsoft diperdagangkan pada P/E sekitar 26,6 berbanding Amazon di 36,8, sehingga selisih valuasi menjadi titik debat utama. Investor yang membandingkan kedua nama ini pada dasarnya memilih antara pertumbuhan murah dan akselerasi pendapatan AI.
Eksposur tematik pada saham AI dan mega-cap teknologi AS dapat dibangun melalui aplikasi Gotrade dengan akses ke lebih dari 4.000 ticker pasar Amerika.












