SEC Buka Tokenisasi Saham, Coinbase & Robinhood Bidik Peluang

Key Takeaways
SEC menerbitkan Innovation Exemption lima tahun untuk perdagangan saham AS tertokenisasi on-chain, efektif 17 September 2026.
Token wajib memberi pemegangnya hak identik dengan saham konvensional, termasuk dividen dan hak suara.
Coinbase, Robinhood, dan Circle dinilai sebagai kandidat penerima manfaat awal oleh analis Goldman Sachs dan Citizens.
Gotrade News - Regulator pasar modal Amerika Serikat resmi membuka jalan bagi perdagangan saham tertokenisasi di jaringan blockchain publik. Menurut pernyataan resmi Securities and Exchange Commission (SEC) pada 17 September 2026, lembaga itu menerbitkan "Innovation Exemption", yaitu relief bersyarat selama lima tahun yang memungkinkan platform memperdagangkan saham National Market System (NMS) tertokenisasi tanpa harus mendaftar sebagai bursa.
Kebijakan ini langsung menempatkan sejumlah nama fintech AS sebagai kandidat penerima manfaat awal. Analis Goldman Sachs dan Citizens menilai Coinbase (COIN), Robinhood (HOOD), dan Circle (CRCL) berpotensi bergerak paling cepat memanfaatkan aturan baru ini, seperti dilaporkan CoinDesk.
Menurut SEC, relief ini mengecualikan Tokenized Securities Venues (TSV) dari definisi "bursa" berdasarkan Securities Exchange Act 1934, sehingga platform dapat memperdagangkan saham NMS tertokenisasi melalui automated market maker (AMM) dan liquidity pool yang bersifat permissioned. Sejumlah syarat menyertainya: token wajib memberi pemegangnya hak yang identik dengan saham NMS tradisional, smart contract harus dapat diaudit dan terlihat publik di ledger terdistribusi, serta perdagangan harus dihentikan ketika saham dasarnya berhenti diperdagangkan di bursa utama. Instrumen sintetis tidak diizinkan.
Dilansir SEC, emiten turut mendapat perlindungan. Perusahaan berhak menerima notifikasi 30 hari dan dapat mengajukan keberatan sebelum pihak ketiga menokenisasi sahamnya. Ketua SEC Paul Atkins menyebut langkah ini sebagai "significant step forward, within its statutory authority, to bring America's capital markets into the digital age", dan menegaskan bahwa token "must provide holders with the same rights and privileges as traditional securities, including rights to receive dividends and exercise voting rights".
Posisi Coinbase, Robinhood, dan Circle
Menurut analis Goldman Sachs yang dikutip CoinDesk, produk saham tertokenisasi Coinbase yang sudah berjalan dinilai memenuhi sebagian syarat, termasuk hak pemegang saham dan kesetaraan dividen. CEO Coinbase Brian Armstrong menyatakan bahwa "voting rights are coming soon", menurut keterangan perusahaan. Meski begitu, bursa Coinbase memakai central limit order book, bukan AMM, sehingga masih membutuhkan infrastruktur baru atau routing ke protokol AMM di jaringan Base.
Untuk Robinhood, analis Goldman menilai token saham lepas pantai (offshore) miliknya belum memberikan hak kepemilikan penuh, sehingga perlu "additional product development". Menurut pernyataan perusahaan, CEO Robinhood Vlad Tenev mengisyaratkan fitur pemegang saham tambahan, termasuk penukaran saham dan hak suara, akan ditambahkan. Analis Citizens memperkirakan Robinhood dapat bergerak cepat berkat traksi ekuitas tertokenisasinya dan Robinhood Chain berbasis Arbitrum. Ketiga nama ini tergolong saham growth di sektor fintech-kripto yang sensitif terhadap katalis regulasi.
Circle diposisikan sebagai penerima manfaat tidak langsung. Baik Goldman Sachs maupun Citizens menilai stablecoin USDC milik Circle berpotensi dipakai untuk "settlement, collateral and other activity around onchain markets", seiring meningkatnya permintaan kas tertokenisasi di pasar on-chain.
Perusahaan | Keunggulan | Yang Masih Dibutuhkan |
|---|---|---|
Coinbase (COIN) | Produk saham tertokenisasi memenuhi sebagian syarat; kustodi, Coinbase Tokenize, jaringan Base | Infrastruktur AMM atau routing (kini memakai order book) |
Robinhood (HOOD) | Traksi ekuitas tertokenisasi; Robinhood Chain (Arbitrum) | Hak kepemilikan penuh: hak suara dan penukaran saham |
Circle (CRCL) | USDC untuk settlement dan collateral on-chain | Penerima manfaat tidak langsung |
Analis Citi memperkirakan aset tertokenisasi dapat mencapai 5,5 triliun dolar AS pada 2030, seperti dilaporkan CoinDesk. Selain exemption ini, SEC turut mengusulkan perombakan aturan transfer-agent dan merencanakan roundtable soal perdagangan 24 jam, kapabilitas yang selama ini melekat di pasar kripto. Relief bersifat sementara dan tetap menuntut pembuatan aturan permanen, sementara Komisi membuka periode komentar publik atas order tersebut.
Bagi investor Indonesia yang mengakses saham AS lewat Gotrade, kebijakan ini menjadi penanda awal bergesernya perdagangan saham konvensional ke jalur on-chain, meski implementasinya masih menunggu kesiapan infrastruktur di masing-masing platform.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














