Gotrade News - Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup di level rekor pada akhir pekan didorong laporan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. S&P 500 naik 0,6% ke 7.563,78 sementara Nasdaq menguat 0,9% ke 26.917,47.
Sentimen risk-on muncul setelah Washington dan Teheran disebut mendekati kesepakatan damai berdurasi 60 hari. Penurunan harga minyak mentah turut menekan kekhawatiran inflasi energi di pasar saham AS.
Key Takeaways
- S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor penutupan baru pada perdagangan terakhir pekan ini.
- WTI turun 1,19% ke US$87,84 setelah laporan draf kesepakatan gencatan AS-Iran 60 hari.
- Data PCE menunjukkan inflasi tercepat dalam tiga tahun, memicu kekhawatiran soal suku bunga.
Menurut Investing.com, futures S&P 500 naik tipis 0,1% ke 7.586,0 sementara futures Nasdaq 100 stabil di 30.303,75. Indeks Dow Jones ditutup nyaris datar dengan kenaikan 0,1% pada sesi yang sama.
Reli ini menempatkan ETF acuan pasar AS seperti SPDR S&P 500 ETF (SPY) dan Invesco QQQ Trust (QQQ) sebagai instrumen utama yang mencerminkan optimisme investor. Saham-saham teknologi besar menjadi motor utama penguatan Nasdaq sepanjang sesi.
Pemicu Reli Wall Street
Dilansir Axios, Wakil Presiden JD Vance menyatakan AS dan Iran sangat dekat dengan nota kesepahaman gencatan 60 hari. Kesepakatan itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta pembukaan jalur perundingan nuklir.
Vance memimpin negosiasi di Pakistan pada April lalu dan menyebut hasilnya sebagai kemajuan signifikan. Namun Presiden Trump menunda persetujuan final untuk menilai respons politik domestik sebelum mengumumkan keputusan.
Harga minyak yang melemah menjadi katalis tambahan bagi saham-saham konsumen dan transportasi. Brent turun 0,80% ke US$91,96 sementara WTI terkoreksi 1,19% ke US$87,84 pada sesi terakhir.
Investor menilai jeda ketegangan di Timur Tengah dapat memperpanjang siklus pertumbuhan korporasi AS. Indeks blue chip yang terwakili dalam SPDR Dow Jones Industrial Average ETF (DIA) juga mencatat penguatan tipis sejalan dengan sentimen positif.
Risiko yang Masih Membayangi
Melansir Investing.com, indeks harga PCE menunjukkan inflasi terakselerasi tercepat dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan biaya energi sebelumnya menjadi pendorong utama tekanan harga di sisi konsumen AS.
Data ini berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Federal Reserve. Pelaku pasar khawatir ruang pemangkasan suku bunga menyempit jika tekanan inflasi tidak segera mereda.
Selain itu, Vance mengakui masih ada poin bahasa yang belum disepakati dalam draf perjanjian dengan Teheran. Ketidakpastian terkait verifikasi komitmen Iran membuat investor tetap waspada terhadap potensi pembalikan sentimen.
Dengan kombinasi rekor indeks dan risiko inflasi, fokus pasar pekan depan akan tertuju pada keputusan akhir Trump. Pernyataan resmi dari Gedung Putih akan menentukan keberlanjutan reli di Wall Street.












