Gotrade News - SpaceX resmi mengajukan prospektus S-1 untuk IPO Juni 2026 dengan target valuasi sekitar $2 triliun. Dilansir The Motley Fool, listing ini berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar AS.
Menurut Investing.com, reksa dana dan dana indeks AS menumpuk kas untuk mengantisipasi IPO SpaceX dan OpenAI. Analis menilai pola serupa terjadi sebelum empat IPO terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Key Takeaways
- SpaceX bidik valuasi $2 triliun dengan IPO yang dijadwalkan Juni 2026.
- Reksa dana AS menyisihkan kas guna mengakomodasi SpaceX dan OpenAI di indeks.
- Starlink menyumbang pertumbuhan pendapatan 32% dengan margin operasi 36%.
Pemicu Reli Minat Investor
SpaceX mengoperasikan tiga segmen utama yaitu Starlink, layanan peluncuran komersial, dan infrastruktur AI. Pelanggan Starlink melampaui 10 juta dan berlipat ganda pada kuartal pertama tahun ini.
Menurut Goldman Sachs yang dikutip Investing.com, SpaceX sendiri membidik valuasi $1,75 triliun versi awal, sedangkan OpenAI mengincar valuasi sekitar $1 triliun. Anthropic juga mengejar pendanaan dengan valuasi mendekati $1 triliun pada periode yang sama.
Indeks Nasdaq 100 dan S&P 500 telah menerapkan aturan percepatan untuk memasukkan perusahaan megacap yang baru tercatat. Manajer dana bersiap menjual kepemilikan large-cap demi memberikan ruang bagi anggota indeks baru.
Sentimen ritel diperkirakan tetap kuat karena saldo kas rumah tangga AS masih besar sejak masa pandemi. Bank Deutsche menilai kondisi tersebut membantu menopang permintaan terhadap penawaran perdana berskala besar.
Risiko yang Masih Membayangi
Meskipun Starlink mencatat kinerja kuat, SpaceX dilaporkan merugi $5 miliar pada tahun sebelumnya. Valuasi perusahaan saat ini berada di atas 100 kali penjualan dan 300 kali EBITDA, menurut Motley Fool.
Belanja modal tahunan SpaceX mencapai sekitar $40 miliar, dengan 76% dialokasikan ke AI ketimbang operasi luar angkasa. Kesepakatan baru senilai $15 miliar per tahun dengan Anthropic setara dengan 45% pendapatan tahun sebelumnya.
Struktur tata kelola juga menjadi sorotan karena Elon Musk memegang kendali melalui saham kelas khusus dengan 10 suara per lembar. Analis menilai struktur tersebut menekan posisi tawar pemegang saham minoritas dalam jangka panjang.
Bagi investor ritel yang ingin eksposur sektor antariksa lebih awal, Voyager Technologies (VOYG) direkomendasikan Motley Fool sebagai alternatif investasi. Saham ini menawarkan keterlibatan langsung di rantai pasok luar angkasa tanpa menunggu listing SpaceX.
Investor juga mencermati pemain teknologi berpaparan AI seperti Alphabet (GOOGL) yang menjadi mitra komputasi penting bagi banyak startup AI. Permintaan komputasi awan diperkirakan ikut terdorong oleh ekspansi infrastruktur AI SpaceX dan Anthropic.
Sementara itu, Tesla (TSLA) sebagai perusahaan publik Elon Musk lainnya kerap dijadikan acuan investor untuk membaca arah portofolio Musk. Pergerakan harga TSLA bisa memberikan sinyal awal terhadap selera pasar atas aset terkait Musk menjelang IPO SpaceX.
Bahkan dengan ukuran rekor, IPO SpaceX hanya merepresentasikan sekitar 0,1% dari kapitalisasi pasar S&P 500 saat ini. Tekanan jual potensial baru muncul setelah masa lockup berakhir, biasanya 90 hingga 180 hari setelah pencatatan.












