Gotrade News - SpaceX dijadwalkan melantai di bursa pada 12 Juni 2026 di harga $135 per saham. Perusahaan menjual lebih dari 555 juta saham dan mengincar valuasi $1,77 triliun.
Aksi ini menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah dan menyalakan gelombang IPO teknologi pada 2026. Investor global kini menimbang potensi pertumbuhan SpaceX terhadap valuasinya yang sangat tinggi.
Key Takeaways
SpaceX IPO 12 Juni 2026 di harga $135 per saham dengan valuasi $1,77 triliun.
Pendapatan 2025 naik 33% menjadi $18,7 miliar, tetapi rugi bersih $4,9 miliar.
Nasdaq longgarkan aturan agar SpaceX bisa masuk indeks Nasdaq-100 lebih cepat.
SpaceX berpotensi menggalang dana hingga $75 miliar dari penawaran ini, salah satu yang terbesar. Valuasi $1,77 triliun setara sekitar 94,7 kali penjualan tahunan, level yang tergolong sangat mahal.
Melansir The Motley Fool, pendapatan SpaceX pada 2025 naik 33% menjadi $18,7 miliar. Namun perusahaan mencatat rugi bersih $4,9 miliar, berbalik dari laba sekitar $791 juta pada 2024.
Dari sisi operasional, SpaceX menguasai lebih dari 80% peluncuran roket di Amerika Serikat. Layanan Starlink kini melayani lebih dari 12 juta pelanggan di 160 negara.
Perusahaan mengklaim total pasar yang bisa digarap mencapai $28,5 triliun. Angka ini menjadi dasar narasi pertumbuhan jangka panjang yang ditawarkan kepada investor.
Dominasi SpaceX juga terlihat di pasar peluncuran komersial yang mencapai sekitar 90%. Skala bisnis sebesar ini jarang dimiliki perusahaan yang baru pertama kali melantai di bursa.
Sinyal Dari Indeks Saham
Nasdaq mengubah aturan agar SpaceX bisa masuk Nasdaq-100 hanya setelah 15 hari perdagangan. Syaratnya, SpaceX harus masuk 40 besar berdasarkan valuasi pada pekan pertama.
Jika syarat terpenuhi, pemegang ETF seperti Invesco QQQ Trust (QQQ) otomatis memiliki eksposur kecil ke SpaceX. Eksposur tersebut diperkirakan tetap berada di bawah 1% dari total portofolio dana tersebut.
Sebaliknya, indeks S&P 500 justru menolak usulan perubahan aturan yang serupa. Perbedaan sikap ini menunjukkan kehati-hatian sebagian pengelola indeks terhadap saham baru bervaluasi besar.
Investor yang mengincar tema inovasi juga bisa membandingkan SpaceX dengan emiten teknologi mapan. Saham seperti Nvidia (NVDA) sudah memiliki rekam jejak laba yang jelas dan konsisten selama bertahun-tahun.
Risiko Valuasi Yang Mahal
Menurut The Motley Fool yang mengutip Jay Ritter, IPO periode 2012-2021 rata-rata naik 23,6% di hari pertama. Namun rata-rata imbal hasil tiga tahun hanya 10,6%, jauh lebih kecil.
Morningstar bahkan menilai SpaceX "significantly overvalued" pada harga penawaran yang ditetapkan saat ini. Investor disarankan menimbang euforia perdagangan hari pertama terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Bagi yang berani mengambil risiko tinggi, dana inovasi seperti ARK Innovation ETF (ARKK) menjadi alternatif eksposur. Pendekatan ini menyebar risiko ke banyak saham teknologi sekaligus.
Gelombang IPO teknologi pada 2026 ternyata tidak berhenti di SpaceX saja. Perplexity membidik IPO pada 2028, sementara Zepto sudah mengajukan IPO dengan pertumbuhan pendapatan iklan 151% di tengah kerugian yang membesar.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.