Syarat AS untuk Raksasa Minyak Kembali ke Venezuela: Investasi Dulu, Ganti Rugi Nanti

Syarat AS untuk Raksasa Minyak Kembali ke Venezuela: Investasi Dulu, Ganti Rugi Nanti

Share this article

Jakarta, Gotrade News - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan memberikan ultimatum kepada perusahaan minyak besar bahwa mereka wajib melakukan investasi baru di sektor energi Venezuela jika ingin mendapatkan kembali dana kompensasi aset masa lalu.

Langkah ini menjadi bagian dari rencana kontingensi Gedung Putih pasca-peralihan kekuasaan dari pemerintahan Nicolás Maduro untuk memulihkan ekonomi negara tersebut.

Bagi investor sektor energi, kebijakan ini mengubah peta risiko secara signifikan karena perusahaan harus mengeluarkan modal besar di awal sebelum bisa mencairkan klaim utang lama.


Key Takeaways

  • Perusahaan minyak AS harus membiayai rehabilitasi infrastruktur Venezuela sebagai syarat utama pencairan klaim aset yang dinasionalisasi.
  • Infrastruktur yang rusak parah dan jenis minyak "berat" membuat pemulihan produksi membutuhkan waktu hingga satu dekade.
  • Dampak terhadap harga minyak global diprediksi minim dalam jangka pendek karena pasokan dunia saat ini masih mencukupi.

Baca Juga: Sinyal 'Reset' Bisnis Pepsi & Coca-Cola di Venezuela

Menurut laporan dari Reuters yang dikutip oleh Seeking Alpha, pesan dari pejabat AS sangat jelas: pembangunan kembali kapasitas produksi harus didahulukan sebelum negosiasi ganti rugi dibahas.

Kebijakan ini secara langsung berdampak pada ConocoPhillips yang menuntut klaim sekitar $12 miliar dan Exxon Mobil Corporation dengan klaim $1,65 miliar akibat nasionalisasi di era Hugo Chávez.

Meskipun Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perusahaan AS siap kembali, tantangan di lapangan jauh lebih kompleks daripada sekadar izin politik.

Mengutip analisis BBC, cadangan minyak Venezuela memang tercatat sebagai yang terbesar di dunia mencapai 303 miliar barel, namun kapasitas produksinya telah runtuh akibat salah urus dan sanksi bertahun-tahun.

Realitas Infrastruktur dan Pasar

Tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan kondisi infrastruktur yang disebut Trump sebagai "rusak parah".

Chevron Corporation, satu-satunya perusahaan AS yang masih beroperasi di sana lewat usaha patungan, kini menjadi satu-satunya pemain yang memiliki pijakan operasional nyata di tengah ketidakpastian ini.

Para ahli memperingatkan bahwa memulihkan output ke level signifikan akan memakan waktu bertahun-tahun, bukan bulan.

Callum Macpherson dari Investec menyebutkan dalam laporan BBC bahwa produksi saat ini hanya sepertiga dari level satu dekade lalu dan infrastruktur yang ada sangat membutuhkan perbaikan total.

Selain itu, Neil Shearing dari Capital Economics menilai rencana ini tidak akan mengubah harga minyak global secara drastis pada tahun 2026.

Baca Juga: Saham Cetak Rekor, Investor Cermati Implikasi Konflik Venezuela

Dengan pasokan OPEC+ yang masih kuat, dunia tidak sedang kekurangan minyak, sehingga tambahan pasokan dari Venezuela, yang berjenis minyak berat dan sulit diolah, baru akan terasa dampaknya dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Referensi:


Disclaimer

PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade