Jakarta, Gotrade News - Pasar keuangan global mengawali pekan dengan tekanan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif impor baru terhadap delapan negara Eropa. Langkah ini memicu aksi hindari risiko (risk-off) yang menyeret turun kontrak berjangka indeks saham di Amerika Serikat dan Eropa.
Key Takeaways
-
Trump berencana memberlakukan tarif 10% mulai 1 Februari 2025 bagi negara pendukung kedaulatan Greenland.
-
Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,8% dan Euro Stoxx 50 merosot 1,2% dalam perdagangan awal Senin.
-
Uni Eropa mempertimbangkan aktivasi instrumen anti-koersi sebagai langkah balasan terhadap tekanan ekonomi AS.
Langkah proteksionisme ini diambil Trump sebagai tekanan agar negara-negara tersebut mendukung pembelian wilayah Greenland oleh AS. Menurut laporan Bloomberg, tarif tersebut bisa melonjak hingga 25% pada Juni mendatang jika kesepakatan pembelian tidak tercapai.
Sentimen negatif ini muncul tepat saat bursa saham Eropa sedang menikmati momentum pertumbuhan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa sejak awal 2025, indeks Stoxx Europe 600 telah melonjak hingga 36 persen dalam denominasi dolar AS.

Angka kenaikan tersebut tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan performa indeks S&P 500 Index pada periode yang sama. Namun, ancaman tarif ini berisiko mematahkan reli panjang yang didukung oleh belanja fiskal Jerman dan ekspektasi laba yang membaik.
Valuasi saham di Eropa kini berada di level hampir 16 kali kelipatan laba masa depan, yang sudah melampaui rata-rata 15 tahun terakhir. Berdasarkan laporan Bloomberg, reli ini mempersempit diskon valuasi pasar Eropa terhadap bursa saham AS hingga tersisa 30 persen saja.

Beata Manthey, ahli strategi dari Citigroup Inc., memperkirakan tarif 10% ini akan memangkas pertumbuhan laba per saham Eropa sebesar 2 hingga 3 poin persentase. Sektor otomotif dan barang mewah diprediksi menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan tersebut.
Para investor merespons kabar ini dengan memindahkan modal ke aset aman seperti Franc Swiss, Yen Jepang, dan emas. Florian Ielpo dari Lombard Odier menyatakan bahwa eskalasi tarif yang tiba-tiba cenderung memicu episode hindari risiko jangka pendek.
Meski demikian, pasar tunai AS ditutup pada hari Senin karena hari libur, sehingga volume perdagangan diperkirakan akan menipis. Kondisi ini membuat volatilitas pasar mungkin tidak akan tercermin sepenuhnya sampai bursa reguler dibuka kembali.
Beberapa analis menilai reaksi pasar mungkin mereda setelah ada kejelasan lebih lanjut mengenai eksekusi perintah eksekutif tersebut. Menurut Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management, penundaan implementasi hingga Februari memberikan ruang bagi investor untuk memantau situasi tanpa bereaksi berlebihan.
Referensi:
Bloomberg, Stock Futures Fall as Trump’s Europe Tariffs Weigh on Sentiment. Diakses pada 19 Januari 2026
Featured Image: Shutterstock











