Tekanan Harga Plastik dan Tekstil di Tengah Gejolak Timur Tengah

Rendy Andriyanto
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Tekanan Harga Plastik dan Tekstil di Tengah Gejolak Timur Tengah

Share this article

Gotrade News - Industri Indonesia tengah menghadapi tekanan dari lonjakan harga plastik dan bahan baku tekstil. Kenaikan ini didorong oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah. Dampaknya sangat terasa terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku petrokimia.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menyoroti dampak dari kenaikan harga plastik pada sektor usaha. Kenaikan biaya produksi membebani pengusaha yang harus menjaga harga terjangkau bagi konsumen. Sektor yang sangat bergantung pada plastik seperti makanan dan minuman serta farmasi, mengalami kenaikan biaya signifikan.

Kondisi yang sama terjadi di industri tekstil. Dalam dua pekan terakhir, harga bahan baku naik hingga 40% akibat konflik yang meningkatkan harga minyak dunia. Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia, Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa kenaikan ini mempengaruhi harga paraxylene, bahan baku utama polyester.

Menurut Shinta, kenaikan harga resin plastik memberi tekanan langsung pada biaya operasional. Lonjakan ini dapat mencapai 100% pada beberapa kategori dengan pasokan yang semakin langka. Terutama UMKM yang menggunakan plastik merasa sangat tertekan karena margin laba semakin tergerus.

Redma menyebut bahwa pasokan bahan baku masih tersedia meskipun harga melonjak. Dampak kenaikan ini diprediksi baru akan dirasakan di sektor hilir dalam tiga minggu mendatang. Kenaikan harga produk jadi di ritel diperkirakan mencapai sekitar 10%.

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan dalam sektor pertanian. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut kesulitan mendapatkan karung plastik telah mempengaruhi pembelian gabah petani. Dampak ini mengindikasikan tekanan lebih luas di sektor ekonomi.

Industri tekstil menghadapi tantangan dari rendahnya tingkat pemanfaatan kapasitas produksi. Saat ini utilisasi nasional produsen polyester hanya di bawah 40%. Kondisi ini menunjukkan masih belum pulihnya aktivitas produksi di sektor hulu secara optimal.

Kondisi ini memerlukan tanggapan kebijakan yang cepat dan terukur untuk menjaga keberlanjutan dunia usaha. Menurut Shinta, respon kebijakan yang tepat akan membantu melindungi tenaga kerja serta menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi global.

Pentingnya tanggapan segera dari pemerintah menjadi lebih kritis untuk menghindari deindustrialisasi lebih jauh terutama dalam sektor yang tertekan ini. Perlunya langkah kebijakan yang responsif untuk mendukung ketahanan industri dan menciptakan kondisi pasar yang lebih stabil dan adil.


Referensi:

Featured Image: GPT Image 1.5

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade