Peluang Fed Naikkan Bunga Oktober Menguat, Yield Dekati 5,2%

Key Takeaways
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 27-28 Oktober naik ke 73% menurut CME FedWatch.
Yield Treasury 10 tahun ditutup di 5,18% pada 24 September, naik dari 4,96% dua hari sebelumnya.
Survei PMI S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis dan tekanan harga di AS mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Gotrade News - Peluang The Fed naikkan suku bunga lagi di Oktober menguat hingga 73% pada Rabu (23/9), sementara yield Treasury 10 tahun terus mendaki hingga ditutup di 5,18% pada Kamis (24/9), mendekati 5,2%. Menurut CME FedWatch, seperti dilaporkan CNBC, lonjakan probabilitas kenaikan pada rapat FOMC 27-28 Oktober itu terjadi setelah Gubernur Federal Reserve Michael Barr menyatakan dukungan untuk kenaikan lanjutan dan data inflasi terbaru memanas.
Menurut data Daily Treasury Par Yield Curve Rates dari Departemen Keuangan AS (U.S. Department of the Treasury), yield Treasury 10 tahun naik dari 4,96% pada Selasa (22/9) menjadi 5,11% pada Rabu, lalu 5,18% sehari kemudian. Dilansir NBC News, salah satu pendorong utama lonjakan yield adalah rilis data ekonomi yang menunjukkan inflasi meningkat, di tengah kenaikan harga minyak.
Barr: Kenaikan Suku Bunga Lanjutan Kemungkinan Diperlukan
Dalam pidato yang disiapkan untuk konferensi perumahan di Chicago, Barr menilai para pembuat kebijakan masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan, meski The Fed sudah menaikkan suku bunga 25 basis poin pekan lalu. Menurut CNBC, kenaikan tersebut membawa suku bunga acuan ke kisaran target 3,75%-4%, dan Barr mendukungnya bersama 11 anggota pemilih FOMC lainnya.
"Dalam skenario dasar saya, penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi turun ke target secara tepat waktu. Kami ingin mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan tahan lama demi mendukung lapangan kerja maksimal, dan stabilitas harga sangat penting untuk itu."
Michael Barr, Gubernur Federal Reserve, seperti dikutip CNBC
Barr juga menyebut komite sebelumnya berada di posisi yang keliru ("out of position") soal suku bunga, dan kenaikan pekan lalu merupakan penyesuaian ke arah yang benar. Dilansir NBC News, ia menambahkan bahwa risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja telah mereda.
Sinyal serupa datang dari pejabat lain. Menurut CNBC, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem dan Presiden The Fed Boston Susan Collins, yang keduanya bukan anggota pemilih FOMC tahun ini, sama-sama mengindikasikan perlunya kenaikan lanjutan. Dari 18 peserta rapat yang menyerahkan proyeksi, hanya dua yang tidak memperkirakan kenaikan lagi tahun ini, meski sempat muncul spekulasi bahwa komite akan menunggu hingga setelah pemilu paruh waktu November lalu menaikkan suku bunga pada Desember.
PMI S&P Global Tertinggi dalam Lebih dari Empat Tahun
Komentar Barr muncul pada hari yang sama dengan rilis indeks manajer pembelian (PMI) flash S&P Global. Melansir CNBC, indeks jasa naik ke 58,7, tertinggi dalam 59 bulan, sementara indeks manufaktur melonjak ke 56,7, puncak dalam 53 bulan. Indeks komposit naik ke 58,4, tertinggi dalam 62 bulan, dan angka di atas 50 menandakan ekspansi.
Tekanan harga ikut meningkat. Menurut CNBC, ukuran inflasi keseluruhan dalam survei S&P Global mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022, didorong biaya bahan bakar dan transportasi yang lebih tinggi serta kenaikan upah. Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson menyebut biaya input perusahaan pada September naik dengan laju tercepat dalam empat tahun, yang akan menambah tekanan pada harga jual dan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Dari sisi tenaga kerja, perusahaan melaporkan kebutuhan pekerja tambahan untuk menangani tumpukan pesanan. Dilansir CNBC, lapangan kerja sektor jasa tumbuh dengan laju tercepat sejak Juni 2002, sementara sektor manufaktur mencatat laju tertinggi sejak Februari 2021.
Yield Treasury 10 Tahun Naik ke 5,18%
Pasar obligasi bereaksi agresif. Menurut NBC News, yield Treasury 10 tahun, yang sangat memengaruhi suku bunga pinjaman konsumen seperti KPR, sempat naik hingga 5,13% pada Rabu, level tertinggi sejak 2007, dan mencatat lonjakan harian paling tajam sejak 9 April 2025. Rata-rata bunga KPR tetap 30 tahun ikut naik ke 7,26% pada hari yang sama menurut Mortgage News Daily.
Tenor Treasury | Selasa (22/9) | Rabu (23/9) | Kamis (24/9) |
|---|---|---|---|
2 tahun | 4,71% | 4,85% | 4,87% |
10 tahun | 4,96% | 5,11% | 5,18% |
30 tahun | 5,29% | 5,40% | 5,47% |
Sumber data tabel: Daily Treasury Par Yield Curve Rates, Departemen Keuangan AS.
Yield 2 tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik lebih dari 13 basis poin ke 4,9% pada Rabu, menurut CNBC. Karena harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan yield, ETF obligasi tenor menengah seperti iShares 7-10 Year Treasury Bond ETF (IEF) ikut sensitif terhadap kenaikan yield ini.
Nasdaq Turun 1,13%, Sektor Utilitas Paling Tertekan
Kenaikan yield dan harga minyak menekan Wall Street. Menurut NBC News, Nasdaq Composite ditutup turun 1,13% pada Rabu, indeks S&P 500 yang menjadi acuan SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) melemah 0,75%, dan Dow Jones turun 352 poin. Pada hari yang sama, harga minyak Brent naik 3,8% ke US$103,08 per barel, sementara minyak mentah AS naik 1,8% ke US$92,16.
Sektor utilitas, yang dilacak oleh Utilities Select Sector SPDR Fund (XLU), menjadi sektor dengan penurunan terbesar di S&P 500. NBC News mencatat sektor ini mencakup banyak perusahaan yang memimpin ledakan pembangunan data center AI, dan suku bunga yang lebih tinggi dapat menambah biaya miliaran dolar AS untuk membangun infrastruktur AI. Sektor consumer discretionary dan real estat juga termasuk yang turun cukup dalam.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














